P Marco1

Lima mahasiswa lintas agama datang mengucapkan terima kasih kepada Paus Fransiskus atas kebaikan Gereja Katolik dan sekaligus berpamitan. Mereka merasa sangat bangga dan bahagia karena bisa berjumpa secara pribadi dengan Paus yang mereka kagumi selama ini, kata Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate Pastor Markus Solo SVD.

Imam asal Flores, Indonesia, yang kini duduk dalam Desk Islam di Asia dan Pasifik dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama itu mengutip perkataan kelima mahasiswa itu: “Paus Fransiskus adalah pribadi luarbiasa, sangat sederhana dan sangat rendah hati. Beliau menjadi contoh bagi banyak pemimpin agama di dunia ini.”

Kelima mahasiswa itu masing-masing adalah Muslimah asal Jember (Jawa Timur), Muslimah asal Turki/Jerman, Muslimah asal Pakistan, T’ienti dari Taiwan dan Rahib Buddha dari Birma.

Mereka semua sepakat, lanjut imam itu, untuk membawa pesan Paus Fransiskus ke negara mereka masing-masing dan menjadikannya motivasi khusus dalam upaya memajukan dialog atas dasar saling menghormati dan saling memahami demi terciptanya perdamaian dan kerukunan di dunia ini, yang menurut Paus Fransiskus, merupakan “rumah kita bersama” (Ensiklik Laudato Si’).

Mereka diterima oleh Paus Fransiskus secara pribadi bersama Yayasan Nostra Aetate di akhir acara Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, 8 Juni 2016. Pertemuan itu diselenggarakan untuk menandai 25 tahun berdirinya Yayasan Nostra Aetate (1990-2015), dan sekaligus Yubileum ke-50 terbitnya Dokumen Nostra Aetate (1965-2015).

Yayasan Nostra Aetate, jelas Pastor Markus Solo, adalah institusi philantropik (dermawan) yang didirikan oleh Tahta Suci tahun 1990 dan merupakan bagian kerja dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama di Vatikan. Yayasan itu diberi nama sesuai nama salah satu dari 16 dokumen resmi yang berhasil diterbitkan dan diratifikasi selama Konsili Vatikan II (1962-1965).

Ketika menerima yayasan itu, kata Pastor Markus Solo, Paus Fransiskus bersalaman akrab dan memberikan kata-kata dukungan menyangkut pentingnya edukasi dan formasi berlanjut bagi para pemaju dialog antaragama dan “memberanikan kami semua untuk tetap berkarya demi tegaknya perdamaian global di dunia yang semakin hari semakin tercabik oleh permusuhan dan dendam, sayangnya seringkali atas nama agama.”

Imam itu menjelaskan bahwa Nostra Aetate yang berarti zaman kita adalah dokumen terpendek berupa deklarasi yang berisi paparan sikap dan dinamika baru dari pihak Gereja Katolik dalam relasinya dengan umat dari agama-agama lain.

“Secara singkat Nostra Aetate mendeklarasikan keterbukaan Gereja Katolik terhadap umat dari berbagai agama dengan berbagai pendasaran sosio-antropologis dan teologis serta menyatakan niat untuk bekerjasama dengan umat beragama lain demi tegaknya perdamaian dan keharmonisan global,” kata Pastor Markus. Di atas dasar dokumen itu, lanjut imam itu, Tahta Suci melalui Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama mengembangkan konsep dan berbagai aktivitas dialog antarumat beragama hingga saat ini.

Tugas Yayasan Nostra Aetate, kata Pastor Markus, adalah “mendukung formasi dan edukasi dalam aktivitas dialog antarumat beragama dengan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa-mahasiswi  non-Kristen dari berbagai agama dan negara agar mendalami pengetahuan mereka tentang agama Katolik.”

Yang mendapat beasiswa, lanjut imam itu, adalah “orang-orang berkehendak baik yang sudah sedang bergerak di bidang dialog lintas agama dalam kerjasama dengan Gereja Katolik di negara mereka masing-masing, dan berkeinginan untuk mendalami pengetahuan mereka tentang teologi dan iman agama Katolik di berbagai universitas kepausan di kota Roma agar kelak mereka bisa semakin diperkaya di dalam aktivitas memajukan dialog antarumat beragama.”

Menurut Paus emeritus Benediktus XVI, dialog antarumat beragama yang sejati mengandaikan, bahkan membutuhkan pengetahuan dan informasi yang mencukupi tentang agama sendiri dan agama orang lain. “Dengan itu, semakin seorang mengenal agama orang lain, dia juga semakin mengenal dan mencintai agamanya sendiri.”

“Dugaan-dugaan pihak-pihak tertentu bahwa aktivitas yayasan ini ingin membujuk orang untuk memeluk agama Katolik hanya berbasis atas prasangka belaka dan ketakutan yang berlebihan oleh karena iman mereka yang goyah. Nyatanya, sejak 25 tahun ini, dari ribuan orang yang menikmati kebaikan ini, tak seorang pun menyatakan pindah agama. Malah mereka menjadi pemeluk agama sendiri yang saleh dan taat,” demikian imam Serikat Sabda Allah dari Indonesia itu.(pcp)

Keterangan foto di atas: Lima peserta Persaudaraan Nostra Aetate” 2015-2016 dan Pastor Markus Solo SVD

Nostra Aetate1

 

Perayaan menyambut Ramadan bersama mahasiswa Turki,  Indonesia, Pakistan dan penutupan “Persaudaraan Nostra Aetate” 2015-2016, bersama Dura Besar Indonesia untuk Tahta Suci  Agus Sriyono, Duta Besar Turki untuk Tahta Suci Prof Mehmet Paçacı, Bapak dan Ibu Bernardini dari Yayasan Internasional untuk Yayasan Pendidikan Lintas Budaya dan Antaragama

 

P Marco

Paus Fransiskus bersama Pastor Markus Solo SVD

1 komentar

Tinggalkan Pesan