The-Sermon-On-The-Mount-med 

PEKAN BIASA XI (H)
Santo Vitus; Santo Modestus; Santa Kresensa;
Santa Paola Gambara Cota; Santa Germana Cousin

Bacaan I: 2Raj. 2:1. 6-14

Mazmur: 31:20. 21. 24; R:25

Bacaan Injil: Mat. 6:1-6. 16-18

Dalam khotbah di bukit, Yesus bersabda: ”Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mem­balasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. ”

Renungan

Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus memberikan penekanan pada tiga hal penting dalam membangun relasi dengan diri sendiri, sesama dan Tuhan, yakni: puasa, sedekah, dan doa.

Pertama, praktik berpuasa atau mati raga berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kualitas hidup pribadi. Berpuasa dan matiraga merupakaan kesempatan bagi kita untuk mengolah diri dengan mematikan virus egoisme dan kecenderungan badaniah yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keimanan. Praktik berpuasa juga menekankan bahwa tubuh kita itu mulia karena Roh Tuhan bersemayam memberikan napas kehidupan. Kedua, bersedekah/derma. Bersedekah menuntut setiap orang untuk keluar dari dirinya dan menjumpai orang lain sebagai sesama ciptaan Tuhan. Ini adalah wujud solidaritas terhadap sesama, teristimewa kepada mereka yang berkekurangan dan menderita. Bersedekah mengungkapkan dimensi sosial dari iman itu sendiri. Pada titik ini, bersedekah lahir dari rasa cinta dan kesadaran akan yang lain sebagai saudara, dan bukan ajang untuk mempertunjukkan kelebihan atau kekayaan. Ketiga adalah doa. Doa merupakan sarana membangun relasi dan komunikasi dengan Allah. Dengan berdoa, manusia senantiasa berjumpa dan mengalami kasih Allah. Melalui doa, manusia senantiasa membuka diri terhadap Allah dan membiarkan Roh Allah senantiasa berkarya dalam dirinya. Dengan ini manusia dibebaskan dari sikap sombong dan merasa diri sebagai ”Tuhan” bagi dirinya sendiri.

Ya Tuhan, semoga doa, puasa, dan derma yang aku lakukan semakin meneguhkan imanku akan Dikau dan aku pun semakin solider dengan sesama. Amin.

Tinggalkan Pesan