foto pelantikan praeses

Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD meminta para imam dan pemimpin bidang apa saja untuk belajar dari Kebijaksanaan Salomo. “Menjadi seorang pemimpin, berarti harus bijaksana. Menjadi seorang pemimpin tidak cukup bermodalkan inteligensi yang tinggi dan mapan, tetapi harus ditambah dengan sikap yang arif dan bijaksana. Kebijaksanaan ini diukur dari kemampuan untuk mengatasi pelbagai masalah, mengambil keputusan, merangkul semua orang, menyatukan pendapat,” kata uskup.

Mgr Pareira berbicara dalam Perayaan Ekaristi Pergantian Praeses (ketua) Seminari Tinggi Ritapiret, Flores, NTT, dari Pastor Ewaldus Sedu Pr kepada Pastor Dr Philip Ola Daen Pr, 26 Mei 2016.

Mgr Pareira meminta para imam untuk belajar dari Kebijaksanaan Salomo. ”Kebijaksanaan ini dapat kita pelajari dari seorang tokoh terkenal dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, yakni Salomo. Salomo adalah seorang raja yang terkenal dengan kebijaksanaannya dalam menjalankan tugas kepemerintahannya. Sebagai umat beriman, kita dapat meneladani kebijaksanaan yang ditampilkan oleh Salomo ini, dalam tugas dan hidup harian kita,” kata uskup.

Dalam sambutannya, Pastor Philip Ola Daen menggarisbawahi visi kepemimpinannya yakni menjadikan Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret satu rumah formasi yang handal dalam mendidik calon imam diosesan yang berkerohanian, berkepribadian, berintelektualitas, dan berkegembalaan. “Kami akan mewujudkan Ritapiret sebagai satu rumah formasi yang handal,” kata Pastor Philip.

Untuk mewujudkan visi ini, praeses yang baru itu bertekad membangun kebersamaan yang solid di antara semua komponen seminari, para pembina, para frater, dan komponen lain, serta kerja sama yang bersinergi dan dialog yang rendah hati.

“Karena itu, saya mengajak semua elemen formasi dan semangat kolektif-kolegial untuk memulainya dari hari ini karena tanpa hari ini tidak akan ada hari esok,” kata doktor bidang Hukum Gereja di Universitas Santo Tomas Manila dengan disertasi “A Comparative Study Between the Canonical Provisions On Marriage and the Indonesian Marriage Law and Their Implications” tahun 2009.

Pastor Philip yang juga Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan di STFK Ledalero ini mengakui bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan untuk sesama. Baginya, pemimpin adalah hamba yang siap menjalankan apa yang diperintahkan oleh tuannya, aspek kerendahan hati harus ditunjukkan oleh seorang pemimpin.

Ia berjanji akan menjalankan tugas yang dipercayakan dan bertekad menciptakan komunitas formasi yang saling menghargai dan melayani dalam semangat cinta kasih, bekerja sama dan berdialog dalam usaha membentuk anggota komunitas yang berkarakter baik, beriman, berintelektual dan memiliki semangat kegembalaan yang tinggi.

Di akhir sambutannya, praeses yang baru itu mengajak semua pihak, anggota komunitas Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret untuk saling bekerja sama dan saling melayani untuk komunitas lembaga pendidikan calon imam diosesan itu.

Data yang diperoleh PEN@ Katolik menyebutkan bahwa sejak Seminari Tinggi Ritapiret dibuka sudah 15 praeses yang menakhodai lembaga calom imam projo itu yakni Pastor Josef Boumans SVD (1959-1963), Pastor Leo van Vliet SVD (1963-1966), Pastor Lukas Lusi Pr (1966-1969), Pastor Darius Nggawa SVD (1969-1972), Pastor Aloysius Pendito Kerans Pr (1972-1974), Pastor Linus Djambar Pr (1974-1978), Pastor Philipus Loi Riwu Pr (1978-1987), Pastor Dominikus Balo Pr (1987-1990), Pastor Tiburtius Deru Pr (1991-1996), Pastor Benediktus Daghi Pr (1996-2004), Pastor Silvester San Pr (2004- Januari 2009), Pastor Hubertus Leteng Pr (Januari 2009- Februari 2010), Pastor Martinus Edwaldus Sedu Pr (Februari 2010- Mei 2016) dan Pastor Philipus Ola Daen Pr (Mei 2016-).

Hingga usia 61 tahun, lembaga pendidikan diosesan itu telah dan sedang membina 2.327 frater (yang sedang dibina ada 290 frater) dan dari jumlah ini yang menjadi imam tercatat 595 orang. Dari jumlah imam yang ditahbiskan itu, 10 di antaranya menjadi uskup yakni Mgr Isaak Doera, Mgr Abdon Longginus da Cunha, Mgr Benyamin Bria, Mgr Frans Kopong Kung (kini Uskup Larantuka), Mgr Hilarion Datus Lega (kini Uskup Manokwari-Sorong), Mgr Vincentius Sensi Potokota (Uskup Agung Ende), Mgr Silvester San (kini Uskup Denpasar), Mgr Hubertus Leteng (kini Uskup Ruteng), Mgr Dominikus Saku (Uskup Atambua), dan Mgr Noberto Amaral (Uskup Maliana, Timor Leste).(Yuven Fernandez)

 

 

Tinggalkan Pesan