Duta Besar Malaysia untuk Tahta Suci

Paus Fransiskus menerima audiensi Duta Besar Malaysia untuk Tahta Suci, Tan Sri Bernard Giluk Dompok. Duta Besar Malaysia itu adalah yang pertama menetap (residen) di Vatikan. Dalam audiensi pribadi di Vatikan pada Kamis pagi, 9 Juni 2016, Duta Besar Dompok menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Paus.

Duta Besar itu adalah mantan menteri Industri dan Komoditas Perkebunan Malaysia dan sebelumnya Ketua Menteri Negara Bagian Sabah. Dompok, yang lahir tahun 1949 di daerah yang waktu itu bernama Borneo Utara di bawah koloni Inggris, menyelesaikan pendidikan di sekolah-sekolah misi Santo Michael dan Sekolah Menengah La Salle sebelum menyelesaikan pendidikan di University of East London.

Pengangkatannya sebagai duta besar residen pertama negara itu untuk Tahta Suci diumumkan tanggal 22 Maret 2016. Namun, ia dipercayakan untuk meletakkan dasar pembentukan hubungan diplomatik dengan Vatikan pada tahun 2011.

Dalam percakapan dengan Linda Bordoni dari Radio Vatikan, Duta Besar Dompok berbicara tentang bagaimana terjadinya ikatan formal antara Malaysia dan Tahta Suci dan apa yang dia harapkan menjadi sumbangannya dalam peran barunya itu.

Dia mengatakan mendapat kehormatan untuk hadir dalam diskusi yang diadakan dengan mantan Nuntius Apostolik yang menetap di Bangkok. Dalam masa Kepausan Santo Yohanes Paulus II, Nuntius itu datang ke Malaysia dan bertemu para politisi dan rekan-rekannya dengan harapan terjalin hubungan diplomatik. “Orang-orang yang dia temui sangat tertarik,” demikian gambaran umum saat itu, katanya.

Namun, lanjutnya, saat yang tepat baru muncul beberapa tahun kemudian ketika Perdana Menteri Najib mengambil sikap serius mengenai hal itu. Bersama dengan Dompok, pada tahun 2011 Perdana Menteri itu mengunjungi Paus Benediktus XVI di kediaman musim panasnya di Castel Gandolfo. Di sana mereka menikmati “happy ending” yakni pembentukan formal hubungan diplomatik.

Duta Besar menjelaskan bahwa proses menjadi lama karena Malaysia memiliki bangsa beragam dan kompleks dengan realitas multi-budaya, multi-rasial dan multi-agama yang besar. “Kami memiliki 60% umat Muslim, 30% Buddha, Hindu dan sebagainya, hanya sekitar 10% lebih sedikit umat Kristen, dan sekitar setengah dari 10% itu adalah umat Katolik,” katanya.

Dikatakan, diperlukan waktu untuk memahami bahwa menjalin hubungan diplomatik dengan Vatikan pada hakekatnya akan “memperkenalkan kepada dunia sebuah bangsa yang percaya diri dan yang bersedia mengambil bagian dalam percakapan dunia.”

Kenyataannya, ungkap Duta Besar itu, Malaysia memiliki banyak pengalaman yang dapat disumbangkan untuk peningkatan dialog antaragama.

Dia berbicara bagaimana Malaysia dan tetangganya “yang lebih besar’, Indonesia, yang keduanya memiliki mayoritas penduduk Muslim, namun memiliki banyak hal untuk diajarkan kepada dunia dalam hal ini dan bahwa, walaupun mungkin ada tantangan dan masalah “kita masih mampu mengatasi sebagian besar persoalan dan masalah itu sehingga semua ras bisa hidup bersama.”

Dompok berbicara tentang kampanye Perdana Menteri saat ini untuk mendorong “gerakan orang-orang moderat” yang berupaya menggalang masyarakat untuk memahami bahwa komunitas-komunitas tidak bisa hidup dalam isolasi dan bahwa mereka dengan pandangan yang lebih moderat memiliki tanggung jawab untuk mengupayakan dialog damai.

Duta Besar itu mengatakan, ekstremisme adalah masalah seluruh dunia. Dia pun mengungkapkan keyakinannya bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi fanatisme yang mengarah ke terorisme adalah terlibat dalam penalaran dan dialog.

Salah satu keprihatinan utama Duta Besar Dompok adalah peningkatan pendidikan. “Saya tidak akan berada di sini hari ini, berbicara dengan Anda,” katanya, “kalau saya tidak mendapat kesempatan belajar di sekolah Misi.”

Begitu pentingnya pendidikan Katolik di Malaysia, katanya, sehingga berdampak bagi masyarakat dan memberdayakan orang. “Katolik datang ke Pulau Kalimantan untuk meningkatkan pendidikan. Pendidikan yang pertama dan kemudian penyebaran kabar gembira!” katanya.

Dia menjelaskan bahwa di negaranya, saat ini, Pemerintah telah mengambil alih sekolah Misi karena mereka tidak punya dana dan itulah keprihatinannya agar para pastor Misi diberdayakan lagi.

“Gereja, dan organisasi Gereja terkait, memiliki sejumlah sumber daya besar, aset tidak tetap tetapi keahlian: orang-orang di Gereja sudah menjalankan pendidikan sejak lama (…) dan sebagian bisa dibawa ke bagian dunia lainya,” katanya.

Pendidikan, Duta Dompok yakin, adalah alat paling berharga bagi orang-orang di negara-negara berkembang guna mengatasi kemiskinan. Dia pun mengatakan, salah satu permohonan utamanya kepada orang-orang di Vatikan tentunya agar mendukung keyakinan ini dan terlibat dalam komitmen meningkatkan pendidikan demi perdamaian dan pembangunan.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

 

Tinggalkan Pesan