Renungan02-Mar-2016-A

PEKAN BIASA X (H)
Santo William; Beata Maria Drozte;
Beato Nikolaus Gesturi

Bacaan I: 1Raj. 18:20-39

Mazmur: 16:1-2a. 4. 5. 8. 11; R:1

Bacaan Injil: Mat. 5:17-19

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda: ”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.”

Renungan

Para Ahli Taurat dan orang Farisi ‘makan hati’ dengan Yesus. Bagi mereka, banyak pengajaran Tuhan Yesus yang bertentangan dan bahkan meniadakan hukum Taurat. Ambil contoh, ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, mereka mengkritik Yesus karena Taurat melarang melakukan hal demikian. Maka pada saat khotbah di bukit, Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Bahkan secara keras Yesus menegaskan bahwa barang siapa meniadakan salah satu perintah Taurat, sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Surga.

Namun bagi Yesus, hukum taurat tidak memiliki arti apa-apa jika hanya dipandang sebagai peraturan keagamaan semata. Yesus menggarisbawahi bahwa yang terpenting bukan soal menjaga kemurnian ajaran Taurat, tetapi bagaimana Taurat ini dijalani dan dihayati dalam hidup setiap hari. Taurat akan bermakna ketika perilaku dan sikap hidup benar-benar dijiwai olehnya. Dengan demikian, Taurat menjadi inspirasi yang menuntun orang kepada kebaikan dan menjadi sumber moral dalam bertindak dan berbuat apa pun dalam hidupnya. Orang yang demikian, menurut Yesus, akan menduduki tempat tertinggi dalam Kerajaan Surga.

Kata-kata Yesus ini amat relevan dengan kehidupan kita. Kitab Suci adalah Firman Tuhan yang menjadi pelita dalam hidup keberimanan kita. Saat ini, sering kali ayat Kitab Suci dipakai untuk membenarkan perilaku menyimpang, seolah-olah Tuhan mengizinkan umat manusia melakukan apa pun sesuai dengan keinginannya. Sebagai pengikut Kristus, acapkali kita hanya tampil sebagai pendengar atau pembaca firman. Sabda Allah yang dibaca dan didengar belum meresap dan menjiwai seluruh pola laku hidup keberimanan dan sosial kita. Tuhan Yesus mengajak kita untuk tidak saja menjadi pendengar atau pembaca Firman, tetapi terutama menjadi pelaku Firman.

Ya Tuhan, bimbinglah aku dalam menghayati dan melaksanakan sabda dan kehendak-Mu. Dengan demikian, aku bukan saja menjadi pendengar sabda, tetapi terutama menjadi pelaku sabda-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan