8-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA X (H)

Santo Norbertus; Santo Filipus

Bacaan I: 1Raj. 17:1-6

Mazmur: 121:1-2. 3-4. 5-6. 7-8; R:2

Bacaan Injil: Mat. 5:1-12

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. ”

Renungan

Sesuatu yang penting dan sakral, dalam bahasa Kitab Suci, selalu berada di tempat yang tinggi—di atas gunung atau di sebuah bukit— dekat dengan Allah. Hari ini Yesus menyampaikan Sabda Bahagia dari atas bukit, memperlihatkan betapa Sabda Bahagia yang disampaikan itu penting dan sakral. Ada dua hal pokok yang hendak disampaikan dari rumusan Sabda Bahagia Yesus ini, yakni tentang waktu saat ini (sekarang) dan waktu yang akan datang. Tentang waktu sekarang Yesus mengatakan berbahagialah pada apa yang terjadi, apa yang dialami dan apa yang dilakukan saat ini. Karena pada masa mendatang atau sesudahnya, kita akan memperoleh buah-buah kebaikan dan penebusan dari perbuatan dan kesetiaan kita saat ini. Kuncinya adalah kita melakukan dengan bahagia setiap perbuatan dan juga bahagia dengan setiap peristiwa yang dialami saat ini. Menjalankan segala sesuatu dengan bahagia memotivasi kita untuk melakukannya secara benar, sabar, penuh perjuangan apa pun kesulitan yang dihadapi.

Sabda Bahagia juga mengandung harapan akan kebaikan yang akan diperoleh. ‘Yang miskin di hadapan Allah’ akan memperoleh Kerajaan Surga; yang berdukacita akan dihibur, yang lemah lembut akan memiliki bumi, yang lapar dan haus akan kebenaran akan dipuaskan, yang murah hati akan memperoleh kemurahan, yang suci hatinya akan melihat Allah, yang membawa damai akan disebut Anak Allah, yang dianiaya oleh karena kebenaran akan memiliki Kerajaan Surga.

Dengan ini hendak dikatakan bahwa setiap orang yang tekun dan setia melakukan perbuatan baik, yang hatinya tertuju pada Allah dan cintanya tulus kepada sesama, akan mendapatkan pahala penebusan dan kebahagiaan pada hari ini juga dan dijamin hidupnya pada hari yang akan datang. Orang seperti inilah yang disebut Yesus sebagai orang yang berbahagiah: Bahagia di dunia, selamat di akhirat! Semoga kita pun layak disebut orang yang berbahagia itu.

Ya Tuhan, ajarkanlah aku untuk melakukan apa pun dengan bahagia, sebab kasih dan cinta-Mu selalu disediakan bagi orang yang tekun dan setia. Amin.

 

Tinggalkan Pesan