Holy Gospel of Jesus Christ according to Saint Mark

PEKAN BIASA IX (H)
Santo Erasmus; Santo Marselinus dan Petrus;
Sant. Nicephorus dr Konstantinopel; St. Feliks dr Nikosia

Bacaan I: 2Tim. 2:8-15

Mazmur: 25:4bc-5ab. 8-9. 10. 14;

Bacaan Inji l: Mrk. 12:28b-34

Pada suatu hari, seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: ”Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. ” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: ”Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Kali ini orang Saduki dan ahli Taurat menguji Yesus dengan pertanyaan: Manakah hukum yang paling utama? Terhadap pertanyaan ini, Yesus mengingatkan mereka akan apa yang diajarkan hukum Taurat: ”Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:4-5). Dan hukum yang kedua ialah ”kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Tuhan Yesus menekankan tindakan mengasihi sebagai yang terutama karena Allah adalah Kasih itu sendiri. Allah menciptakan dunia dan segala isinya dengan kasih-Nya yang melimpah. Dunia ciptaan dan manusia adalah luapan kasih Allah. Hal ini berpuncak pada peristiwa inkarnasi, di mana Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Putra-Nya. Karena kasih-Nya yang begitu besar akan dunia ini maka Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan kita.

Ketika mengasihi menjadi hukum yang terutama, maka kasih hendaknya menjadi rujukan pokok dari setiap perbuatan dan tindakan hidup manusia. Pola perilaku dan sikap hidup mesti berakar pada hal ini. Maka, kualitas keberimanan kita sebagai pengikut Kristus dinilai sejauh mana sikap hidup kita mengekspresikan kasih terhadap Allah dan sesama manusia. Sesama di sini juga berhubungan dengan alam ciptaan, sebagaimana diteladankan oleh St. Fransiskus dari Assisi.

Dunia saat ini semakin individualis. Sering kali kita menjadikan kepentingan pribadi yang egois sebagai sumber dan tujuan dari sikap dan tindakan kita. Orang seperti ini akan sulit untuk mencintai. Sebab, dalam pikirannya bukan lagi apa yang harus saya berikan kepada sesama, tetapi apa yang sesama harus berikan kepada saya. Kita ditantang untuk membangun sikap hidup tanpa pamrih, yang terarah pada kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan diri dan sesama.

Ya Tuhan, syukur atas benih kasih yang telah Engkau taburkan dalam diriku. Semoga aku mampu menjadi saluran kasih-Mu kepada sesama dan seluruh alam ciptaan-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan