1-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA IX (H)
Santo Feliks I; Santa Jeane d’Arc; Santa Baptista Varani; Santo Ferdinandus dari Kastilia

Bacaan I: 2Ptr. 1:1-7

Mazmur: 91:1-2.14-15ab.15c-16; R:2b

Bacaan Injil: Mrk. 12:1-12

Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua dengan perumpamaan, kata-Nya: ”Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

Renungan

Injil hari ini bercerita tentang para penggarap yang tidak tidak tahu bersyukur dan malah melakukan kejahatan terhadap tuan kebun anggur. Pemilik kebun anggur telah menyiapkan segala sesuatu sehingga para penggarap tinggal menanam dan menunggu hasil. Namun, ketika musim panen tiba, mereka tidak memberikan kepada pemilik kebun anggur apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, mereka malah membunuh utusan-utusan yang bertugas memungut hasil. Bahkan putranya sendiri pun juga mereka bunuh. Akibatnya bisa diduga. Pemilik kebun anggur itu membinasakan para penggarap itu dan menyewakan kebun itu kepada penggarap yang lain.

Perumpamaan ini tentu merupakan sindiran bagi orang-orang Yahudi yang telah membunuh para nabi dan menyalibkan Putra Allah. Oleh karena ketegaran hati mereka, Allah berpaling kepada bangsa-bangsa lain sebagai penggarap-penggarap baru. Kita adalah orang-orang yang beruntung karena Allah telah memilih kita menjadi penggarap yang baru. Semoga kita tidak melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang dilakukan oleh Israel lama, yakni tidak tahu bersyukur atas rahmat yang diterima dan tidak melakukan tugas yang merupakan kewajiban kita.

Tuhan, syukur kepada-Mu karena Engkau mempercayakan aku menggarap kebun anggur-Mu. Bantulah aku untuk setia pada pekerjaan yang Engkau percayakan kepadaku. Amin.

Tinggalkan Pesan