Jesus teaching at the Temple

PEKAN BIASA VIII (H)
Santa Margaretha Pole; Santo Wilhelmus;
Santo Bernardus dari Montjoux; Santo Germanus dari Paris

Bacaan I: Yud. 17.20b-25

Mazmur: 63:2.3-4.5-6; R:2b

Bacaan Injil: Mrk. 11:27-33

Beberapa waktu sesudah mengusir para pedagang dari halaman bait Allah, Yesus dan murid-murid-Nya tiba kembali di Yerusalem. Ketika Yesus sedang berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: ”Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: ”Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Renungan

Setelah mengusir para pedagang dari halaman Bait Allah, Yesus ditantang oleh Mahkamah Agama yang terdiri dari orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan orang tua-tua Yahudi dengan sebuah pertanyaan: ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Mereka berharap bisa menjebak Yesus. Kalau Yesus menjawab, ”dengan kekuasaan sendiri” Dia akan dianggap terlalu bombastis. Sebaliknya kalau Yesus menjawab, ”dengan kuasa Allah”, maka Dia dianggap telah melakukan penghojatan terhadap Allah. Apa pun jawaban Yesus, mereka pasti menemukan alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi, jawaban Yesus sama sekali di luar dugaan mereka sehingga mereka pun bungkam.

Dari kisah ini kita mendapat pelajaran tentang pentingnya ketulusan. Pertanyaan Mahkamah Agama kepada Yesus sebenarnya tidak tulus karena bersifat menjerat. Karena itu, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Mereka akhirnya merasa terpojok dengan pertanyaan Yesus. Pelajarannya adalah orang mesti tulus dan selalu mengabdi kepada kebenaran. Kita bisa saja membohongi sesama kita dengan topeng-topeng kepalsuan dan tampilan luar yang penuh kemunafikan, tetapi Allah menyelami pikiran kita dan menilik ke lubuk hati yang terdalam. Tuhan tidak bisa dibohongi dan orang-orang munafik akan ‘kena batunya’ suatu saat.

Tuhan, tolong aku untuk selalu mendengarkan kata hatiku yang jujur. Jauhkanlah dariku rencana-rencana busuk yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan