Peserta Live- In IM3 foto bersama di depan gereja (3)

IM3 bukanlah jaringan jelek pencari masalah dan bukan urakan dan perusuh, namun pencari masa depan di Malang dan tidak akan hilang dari Malang. Untuk itu, sebanyak 75 anggota IM3 masuk dan berbaur dengan masyarakat Dusun Lodalem untuk berbaur dengan masyarakat demi tercipta kerukunan.

Selama dua hari, Sabtu dan Minggu 21-22 Mei 2016, para anggota IM3 asal NTT, Ambon, Papua, dan Kalimantan yang sementara kuliah di berbagai kampus di Malang melaksanakan kegiatan live-in di Paroki Maria Annunciata Lodalem, Dekanat Malang Selatan, Keuskupan Malang.

Live-in para mahasiswa yang tergaung dalam jaringan atau Ikatan Alumni Mahasiswa-Mahasiswi Mardi Wiyata (IM3) Malang itu bukan semata untuk memperkenalkan wadah IM3 ke umat Paroki Lodalem, melainkan untuk mempelajari budaya Jawa, sekaligus berbaur dan hidup bersama dengan masyarakat Muslim Lodalem, sehingga terciptalah kerukunan beragama bernafaskan Pancasila.

Meski dari berbagai kampus di Malang, anak-anak IM3 pernah mengenyam pendidikan dasar dan menengah yang dikelola frater-frater Bunda Hati Kudus (BHK) lewat Yayasan Mardi Wiyata. “Kalian ke sini (Malang, red) untuk kuliah, bukan mencari masalah, bukan mencari isteri atau suami. Hargai orangtua kalian yang membiayai kalian untuk kuliah. Kalian ke Paroki Lodalem untuk belajar mengenal budaya Jawa. Tidak usah malu mempelajari budaya orang lain, karena kita semua basodara,” kata Pastor Damianus Bili O’Carm ketika menerima peserta di aula paroki.

Imam asal Sumba, NTT, itu menyentil peristiwa bentrok antara mahasiswa Sumba dan Ambon. “Akibat bentrok itu saya juga ikut malu. Kalian tidak mampu menjaga kami, kaum berjubah asal NTT. Kapan kalian akan sadar bahwa kalian ke sini untuk kuliah demi masa depan?” tanya Pastor Damianus. Peserta diam membisu.

Pertanyaan itu masih terbawa saat peserta dijemput oleh keluarga-keluarga Katolik yang akan menjadi tuan rumah di Stasi Silodadi, Stasi Panggang Lele dan Lodalem sebagai pusat paroki.

Menurut Ketua Panitia, Delsiana Dede Kaka, IM3 merupakan “bengkel” buat mereparasi teman-teman yang belum lurus jalannya. “Ya, saya berharap ‘bengkel’ kecil ini bisa memperbaiki teman-teman yang sering salah jalan dan tersesat, sehingga kami boleh berjalan bersama lagi di rel yang sama,” kata gadis asal Sumba itu, seraya menambahkan bukan berarti anak-anak NTT yang paling banyak mengikuti “kesempatan yang sungguh berahmat” itu kebanyakan nakal-nakal. “Tidak sama sekali!”

Pendamping rohani IM3 Frater Kardi BHK membenarkan, program itu dijalankan dalam tiga kesempatan berahmat, bertepatan dengan Tahun Kerahiman, HUT Kongregasi BHK, dan bulan Maria. Karena anak-anak IM3 belum pernah mengunjungi Lodalem, maka wilayah paroki itu dipilih “agar anak-anak IM3 menemukan jati diri, merubah perilaku dan sikap, serta mengembangkan potensi demi masa depan.”

Ketua umum IM3 Paulinus Oktovianus Awang menegaskan, IM3 dibentuk untuk menjaring tamatan Mardi Wiyata, agar berbagi pengalaman, membantu pengembangan diri, dan membendung hal-hal negatif. “Ini wadah tepat untuk berproses. Ini kesempatan baik supaya pengurus dapat menjaring lebih banyak teman yang belum bergabung. Ya, saya berusaha sekuat tenaga agar teman-teman tidak terprovokasi lagi ke hal-hal merugikan diri sendiri dan yang dicita-citakan boleh terjawab,” katanya.

Yayu, warga Paroki Lodalem yang menerima peserta di rumahnya mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dirinya bersama keluarga besarnya senang menerima peserta. “Setiap manusia tak ada yang sempurna. Namun di saat berbagi, sekecil apa pun sangat bernilai jika dibagikan dalam kasih dan persaudaraan. Persaudaraan yang sangat dibutuhkan, bukan hal-hal lain,” tegas ibu beranak dua itu.

Olvi Gaina dan Vebi senang, karena melalui IM3 dan live-in mereka berdua boleh mempunyai orangtua angkat yang pertama. Sepakat bahwa banyak hal mereka dapatkan dari orangtua angkat, mereka berjanji akan terus menjaga komunikasi dengan orangtua angkat mereka.

Sebagai penanggung jawab IM3, Frater Yohanes Mau BHK menyatakan bahwa IM3 tidak akan hilang dari tanah Malang, karena IM3 merupakan bagian dari Malang. “Untuk itu, anak-anak IM3 bertekad dengan gigih untuk menjaga dan mengembangkan tanah Malang dengan menorehkan prestasi-prestasi gemilang yang sedang, akan dan selalu diraihnya,” kata frater asal Atambua itu seraya menegaskan bahwa anak-anak IM3 bukanlah anak-anak perusuh, melainkan anak-anak peraih masa depan.

Niat mendirikan IM3 sudah lama digaungkan oleh mantan-mantan asuhan frater BHK. Niat yang selalu terhalang oleh berbagai kesibukan terealisasi setelah terjadi bentrok antara pemuda Sumba dan Ambon. Setelah pengurusnya lengkap, mereka melakukan kegiatan perdana berupa ziarah sekaligus tanggungan koor ke salah satu paroki di Kediri awal Februari 2016.

Dalam Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus 22 Mei 2016, Pastor Damianus menegaskan bahwa anak-anak IM3 datang ke Malang untuk kuliah, “bukan untuk urak-urakan, bukan untuk membuat masalah, bukan untuk mencari suami atau isteri, melainkan mencari ilmu demi masa depan.”

Diingatkan, mereka masih muda dan harus menghargai orangtua yang bersusah payah mengkuliahkan mereka. “Saya tidak mau dengar lagi kalian terlibat dalam masalah apa saja. Belajar mengendalikan diri dan emosi. Kelola diri dengan baik. Jangan menyusahkan orangtua di kampung sana dengan hal-hal yang tidak baik. Raih prestasi di kampus sebanyak mungkin. Kalahkan mereka yang sedang membencimu dengan prestasi-prestasi,” imam itu mengakhiri homili. (Felixianus Ali/Yohanes Handrianus Laka)

 

Tinggalkan Pesan