KTT kemanusiaan2 Kardinal Petro Parolin tiba di Istanbul

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kemanusiaan Dunia yang pertama dimulai hari ini, Senin, 23 Mei 2016 di Istanbul, dan Paus Fransiskus mengirimkan delegasi tingkat tinggi untuk mewakili Tahta Suci, yang dipimpin oleh Sekretaris Negara atau Menteri Luar Negeri Kardinal Pietro Parolin.

Setelah doa Angelus siang hari di Lapangan Santo Petrus hari ini, Paus menjelaskan bahwa KTT itu “bertujuan untuk bisa merefleksikan langkah-langkah yang harus diambil guna menghadapi situasi kemanusiaan yang dramatis yang disebabkan oleh konflik, masalah lingkungan dan kemiskinan yang ekstrim.”

Paus Fransiskus lalu meminta umat yang berdoa untuk menemani para peserta pertemuan itu, “sehingga mereka sepenuhnya berkomitmen untuk mencapai tujuan kemanusiaan yang utama: menyelamatkan kehidupan setiap manusia, tanpa pengecualian, khususnya yang tidak bersalah dan yang paling tak berdaya.”

Delegasi tingkat tertinggi dari Tahta Suci akan berada di Istanbul untuk menghadiri KTT Kemanusiaan Dunia yang paling pertama, yang akan berlangsung tanggal 23 dan 24 Mei 2016.

KTT, yang diselenggarakan oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon saat dunia menyaksikan tingkat tertinggi penderitaan manusia sejak Perang Dunia Kedua, akan menyatukan para pemerintah, organisasi-organisasi kemanusiaan, para korban krisis kemanusiaan dan mitra-mitra baru, termasuk sektor swasta.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan bahwa yang menjadi pusat KTT itu adalah panggilan bagi kita semua untuk berinvestasi dalam kemanusiaan, yakni dalam keamanan, martabat manusia dan hak manusia untuk berkembang.

Untuk melakukan hal ini, KTT meminta peserta mengusulkan pemecahan terhadap tantangan-tantangan yang paling mendesak di dunia dan menetapkan agenda aksi kemanusiaan yang efektif.

Lebih dari 4,3 juta warga Suriah mengungsi akibat konflik di negara mereka. Diperkirakan di akhir tahun ini jumlah itu menjadi setidaknya 4,7 juta orang. Masalah pengungsi akan menjadi pusat perhatian di Istanbul karena para pemimpin dan pembuat kebijakan harus mengakui bahwa lebih dari setengah orang yang menderita itu adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun yang telah kehilangan segalanya: keluarga, teman-teman, pendidikan dan harapan untuk menikmati masa depan secara normal.

Maka, meskipun  KTT itu teristimewa merupakan panggilan untuk bertindak mengubah dampak krisis itu di tingkat global, regional dan lokal, dengan mencoba memikirkan kembali dan membentuk kembali bantuan yang diberikan kepada para pengungsi saat ini, krisis pengungsi bukanlah satu-satunya topik.

Semua peserta akan mengikuti agenda terpadu yang berfokus pada perubahan iklim, urbanisasi, pertumbuhan penduduk dan bagaimana teknologi baru dapat digunakan untuk kepentingan semua orang. Diskusi-diskusi meja bundar akan memberikan ruang untuk brainstorming kreatif lebih lanjut dan untuk membicarakan cara berbagi dan berinvestasi dalam ide-ide baru.

Begitu pentingnya persoalan-persoalan yang dipertaruhkan sehingga Takhta Suci mengirimkan tiga wakil tertinggi ke pertemuan itu termasuk Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin, Pengamat Permanen untuk PBB Uskup Agung Bernard Auza, dan Uskup Agung Silvano Tomasi, yang hingga beberapa bulan yang lalu adalah Pengamat Permanen Tahta Suci untuk PBB di Jenewa.

Peran dan nilai khusus dari organisasi keagamaan serta kelompok-kelompok keagamaan, yang terlibat dalam upaya membangun perdamaian, bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi jangka panjang diakui dan disorot sebagai penguatan sinergi di antara semua pemangku kepentingan kemanusiaan. Itulah salah satu prioritas di Istanbul. .(pcp berdasarkan radio Vatikan dan Zenit.org)

KTT kemanusiaan

KTT kemanusiaan1

 

Keterangan foto di atas: Kardinal Pietro Parolin tiba di Istanbul untuk ikuti KTT Kemanusiaan Dunia

Tinggalkan Pesan