buruh

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Pr mengatakan bahwa saat ini Gereja Katolik tetap mengusahakan agar para pekerja yang berkecimpung dalam dunia kerja menikmati kehidupan yang semakin manusiawi.

Mgr Suharyo berbicara dalam homili Ekaristi Kudus Hari Buruh Internasional di Gereja Paroki Santa Helena, Curug, Tangerang, 2 Mei 2016. Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE ) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Pastor Justinus Sigit Prasadja SJ, Pastor Rekan Paroki Santa Helena Pastor Eduard Daeli OSC, serta lima imam lainnya yang bertugas di wilayah Dekanat Tangerang.

Selain Misa Buruh se-Dekanat Tangerang itu, Perayaan Hari Buruh Internasional itu diisi dengan dialog bersama kaum buruh. Namun menurut Uskup Agung Jakarta itu, sesuai rasa bahasa “saya tidak menyebut buruh tetapi pekerja karena pekerja dari nilai rasa bahasanya lebih bermartabat daripada buruh.”

Mgr Suharyo juga menegaskan bahwa Gereja sangat memperhatikan para pekerja, buktinya, “perayaan ini dihadiri delapan imam, dan sudah tiga tahun berturut-turut dilaksanakan Misa syukur bersama pekerja di Tangerang secara bergilir di paroki.”

Menurut Mgr Suharyo, dunia kerja kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. “Tidak jarang seorang pekerja berada di tempat kerja yang tidak dikehendakinya,” kata Mgr Suharyo seraya menjelaskan bahwa yang mendorong seseorang untuk bekerja adalah mencari nafkah, aktualisasi diri dan menghadirkan Kerajaan Allah.

Setiap orang Katolik, jelas uskup agung itu, mempunyai peran dalam menghadirkan Kerajaan Allah. “Dalam perjalanan hidup, tentu manusia mengalami kesedihan dan juga kegembiraan. Meskipun manusia terus-menerus diterpa kesedihan, di balik itu Tuhan mengubahnya menjadi kegembiraan.”

Kendati manusia, termasuk umat Katolik dan para pekerja, hidup di tengah dunia yang kacau balau (tidak keruan), Mgr Suharyo meyakinkan bahwa “pada saatnya Allah akan menyempurnakan semuanya.”

Dalam dialog antara Uskup Agung Jakarta dengan para pekerja itu terungkap adanya outsourcing yang menempatkan pekerja pada posisi yang kurang menguntungkan. Menanggapi hal itu, Mgr Suharyo mengatakan bahwa untuk mendapatkan suatu yang ideal perlu proses lama. Maka uskup meminta mereka untuk selalu bekerja dengan tekun, “karena Allah pasti akan menolong dalam setiap kesulitan para pekerja.”

Moderator para pekerja (buruh) Pastor Rafael Adipramono OSC mengatakan bahwa pendampingan yang dilakukan bergandengan dengan relawan lain termasuk para biarawati, “sesungguhnya merupakan aktualisasi Ajaran Sosial gereja (ASG) yang menghendaki adanya kehidupan yang lebih baik dan sejahtera.”

Lembaga Daya Dharma (LDD) milik KAJ, yang juga melayani buruh pabrik, jelas imam itu, sesungguhnya bukti bahwa para pekerja mendapat perhatian dari pihak-pihak lain.

Selama ini, para pekerja memanfaatkan Tempat Penitipan Anak (TPA) yang dikelola Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Selain itu, para pekerja mendapat bantuan untuk melakukan usaha-usaha ekonomi kreatif berupa usaha kecil seperti laundry dan dagang.

Pastor Sigit Prasadja SJ mengatakan bahwa peran PSE adalah melakukan animasi, koordinasi dan fasilitasi. Maka imam itu mengajak seluruh pekerja yang ada di lapangan untuk bekerja sama membantu teman-teman lain yang menghadapi PHK. (Konrad R Mangu)

 

 

 

Tinggalkan Pesan