20160422_171015

Bangsa manusia sedang berhadapan dengan situasi krisis ekologis yang serius, dan hal yang menyedihkan yang perlu dikatakan adalah bahwa risiko besar dan mematikan itu datang bukan dari ancaman kosmis namun justru aktivitas manusia sendiri.

Pastor Yohanes Berchmans Haryono MSF menyampaikan hal itu dalam rekoleksi penggerak cinta lingkungan hidup di Semarang, 22-24 April 2016. Rekoleksi yang diselenggarakan atas kerja sama Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS), Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Semarang dan Balai Budaya Rejosari (BBR) Kudus, Jawa Tengah, itu diikuti para aktivis lingkungan hidup dan sejumlah guru, serta pengelola BBR.

Dalam situasi itu, Pastor Haryono yang kini berkarya di Paroki Yohanes Evangelista Kudus itu berharap agar Gereja bisa membantu semakin banyak orang membuat “pilihan yang sadar” dan mengembangkan “kebijakan yang berhati-hati”.

Orang tidak harus menjadi pakar untuk melihat bencana lingkungan hidup yang sedang terjadi dan sungguh terganggu olehnya, kata imam itu kepada peserta yang sebagian besar berasal dari wilayah pantai utara Jawa Tengah itu.

Menurut imam itu, beberapa penyebab masalah ekologi adalah sikap dan gaya hidup manusia yang teknokratis, “yang melihat alam sebagai obyek yang harus dikuras dan diolah terus menerus tanpa memelihara sumber daya alam,” serta sikap hidup yang hanya mementingkan masa kini saja, “tanpa memperhitungkan generasi yang akan datang, sikap hidup kimiawi “yang merusak unsur-unsur alamiah kehidupan,” lunturnya kontrol sosial dan kepedulian akan hidup bersama, serta “adanya kemiskinan.”

Orang miskin, menurut pengamatan imam itu, “terpaksa merusak lingkungan hidup yang akan menambah kemiskinan mereka hingga akhirnya muncul ketegangan antara ekonomi dan ekologi.

Dalam keseluruhan gerakan yang kompleks dan sulit itu, Pastor Haryono merasa bahwa yang mendesak diperlukan adalah pendidikan tanggungjawab terhadap lingkungan hidup sejak dini.

Sedangkan Pastor Bruno B Herman Tjahja SJ mengatakan, mulai saat ini perlu dikembangkan nilai-nilai konservasi bukan konsumerisme, nilai kebutuhan bukan keserakahan, nilai kekuasaan yang memberdayakan bukan kekuasaan yang mendominasi, dan nilai keutuhan ciptaan bukan eksploitasi alam.

Tindakan konkret yang bisa dilakukan, menurut imam itu, adalah menerapkan pertanian organik dan konsumsi organik. “Pertanian organik adalah pertanian yang bekerja sama dengan alam, pertanian yang bersahabat dengan alam. Alamlah pusat pembelajaran dan pengembangan pertanian. Pengertian  ini pasti menciptakan pertanian yang tidak merusak alam, melainkan melestarikan,” kata pastor yang berkarya di Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga itu.

Sementara itu, Ketua Serikat Paguyuban Petani Qariyah Thayyibah Salatiga Ruth Murtiasih Subodro mengatakan pelestarian alam terkait erat dengan dunia pertanian yang berimplikasi pada ketahanan pangan.

Tokoh Sedulur Sikep Gunretno menandaskan pentingnya kreativitas dalam berjuang melawan perusakan alam yang dilakukan dengan jalan antikekerasan. Menurutnya, semua pihak perlu dilibatkan untuk membangun kekuatan.

Sedangkan, tokoh Islam Gus Ubaidillah Ahmad menegaskan pentingnya mengondisikan agama sebagai pembebas bagi orang-orang yang tertindas terutama yang disebabkan konflik sumber daya alam dan pentingnya agama-agama bersatu untuk membela yang tertindas.(Lukas Awi Tristanto)

 

 

Tinggalkan Pesan