satu anak dari pengungsi Suriah yang dibawa oleh Paus

Hassan Zahida dan istrinya Nour nampak bingung dan hampir tidak percaya bahwa mereka akhirnya selamat. Anak mereka yang berusia dua tahun dengan senang hati membuat kue-kue dari lumpur dan bermain dengan kerikil, sama seperti anak-anak lain di dunia.

Mereka adalah salah satu dari tiga keluarga yang hari Sabtu lalu naik pesawat di Yunani bersama Paus Fransiskus pada akhir kunjungannya ke Lesbos.

Di sini di Roma mereka diterima oleh Komunitas Saint Egidio yang memberikan mereka “visa kemanusiaan” agar bisa melakukan perjalanan. Komunitas itu juga yang mengurus logistik dan membantu mereka saat permintaan suaka mereka sedang diproses.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan bertemu mereka di pekarangan Saint Egidio dan meminta mereka berbagi perasaan saat mempersiapkan diri membuat dasar bagi kehidupan “normal”.

Terima kasih dan penghargaan atas langkah dan sikap Paus Fransiskus terhadap diri mereka dan terhadap semua pengungsi merupakan kata-kata pertama Hassan. Dia juga memberi dorongan dan harapan bagi yang saat ini sedang berpindah atau berada di perbatasan dan sedang mencari perlindungan.

Dia juga menceritakan bahwa dia sungguh tidak berharap bisa naik pesawat kepausan pada hari Sabtu sore …

Hassan menjelaskan, hanya beberapa hari sebelum meninggalkan Lesbos ia pergi berbelanja di pusat kota ketika direktur kamp pengungsi Kara Tepe mengumumkan bahwa tiga keluarga yang ada di sana akan diterbangkan ke Italia. Dia tidak mengatakan kepada kami “tentang jenis penerbangan atau dengan siapa. Dia tidak memberitahu kepada kami bahwa kami akan khusus terbang  bersama Paus … “

Dia mengatakan, dia baru mulai memahami maksud dari semua ini bagi keluarganya setelah berbicara dengan seseorang dari Saint Egidio yang mengatur visa mereka dan mengurus detail-detailnya.

Hassan mengatakan Paus bertemu keluarga-keluarga itu di bandara dan bertanya tentang cerita-cerita  dan situasi mereka. “Kami mengatakan betapa kami menghargai upaya-upaya yang sedang dia lakukan untuk semua pengungsi – untuk mereka yang ditahan di Kamp Kara Tepe dan di Kamp Moria dan bagi mereka di perbatasan antara Makedonia dan Yunani.”

Dia mengatakan bahwa pesannya bagi mereka yang sedang berupaya memasuki Eropa adalah tetap berharap hidup dan menunggu kebijakan baru Uni Eropa yang akan memungkinkan mereka untuk masuk. Dia mengatakan bahwa dia yakin akan ada perkembangan setelah kunjungan Paus ke Lesbos.

“Kami tidak akan melupakan kalian dan kami akan melakukan semua yang bisa kami lalukan untuk mengizinkan kalian datang (…) ke sebuah negara Eropa yang aman,” katanya.

Hassan mengatakan bahwa mimpinya agar klaimnya untuk suaka diterima di sini di Italia dan agar ia mampu membangun “kehidupan aman yang baru di sini” terutama untuk anaknya dan istrinya.

Dia mengatakan, ketika mereka melarikan diri dari kekerasan di Suriah mereka berharap menemukan perlindungan di negara mana pun yang akan menerima mereka.

Hassan menceritakan perjalanan dramatis selama empat bulan yang membawa dia dan keluarganya dari kota asal Damaskus di mana tentara mendaftarkan dirinya untuk wajib militer, ke Aleppo di mana militan ISIS berupaya membuat mereka bergabung dengan Jihad. Dia mengatakan bahwa sudah tiga bulan mereka dibantu oleh penyelundup manusia untuk mencapai Turki. Mereka harus membayar para penyelundup, berulang kali sementara “menunggu saat yang tepat untuk menyeberangi perairan.”

Hassan beruntung sempat didaftarkan di Yunani sebelum kesepakatan saat ini antara Uni Eropa dan Turki mulai berlaku. Maka, dia menjadi calon penerima visa kemanusiaan ke Italia.

Syarat lain bagi Komunitas Saint Egidio yang mengatur “Selamat Datang” adalah “kerentanan” keluarga. Pribadi-pribadi kurang kesempatan untuk mendapat status suaka.

Berbicara dalam bahasa Perancis, Nour, isteri dari Hassan bersyukur kepada Paus Fransiskus dengan mengatakan, “Saya ingin berterima kasih kepada Paus untuk langkah yang dibuatnya. Tidak ada pemimpin agama Muslim dan tidak ada Presiden Arab – dan saya telah mengatakan hal ini berkali-kali – yang telah melakukan apa pun seperti ini. Orang tahu kami berbahasa yang sama, beragama yang sama, tetapi nampaknya tidak ada satu pemimpin agama atau Presiden Arab merasakan penderitaan kami. Hanya Paus. Paus berdoa bagi kami, dia merasakan penderitaan kami, dia memutuskan untuk pergi ke Lesbos untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Maka saya ingin mengatakan: “Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih karena telah menyelamatkan kami,” katanya.

Nour mengatakan bahwa dia berharap agar langkah ini dapat mempengaruhi orang lain dan menyentuh semua orang, agar langkah itu bisa membantu merubah posisi politik sehingga perbatasan-perbatasan dibuka untuk semua pengungsi:

“Ada begitu banyak situasi sulit di kamp-kamp; ada begitu banyak orang membutuhkan bantuan. Dan mereka semua orang-orang ‘normal’ yang harus meninggalkan segala sesuatu karena perang … semua yang kita inginkan adalah tinggal di tempat di mana ada kebebasan, hormat kepada semua orang, hormat kepada semua agama,” katanya. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

 

Tinggalkan Pesan