2016-03-19 10.52.29

Sosok itu istimewa. Dia selalu setia dan taat kepada Tuhan. Dia tidak pernah bertanya.Dia adalah sosok yang diam, tidak banyak bicara, tapi penuh tanggung jawab dan setia. Nama sosok itu Santo Yusuf. Sosok orang kudus itu diidentikkan dengan sebuah wisma di Gedangan, Semarang.

“Perjalanan pelayanan panti jompo Wisma Rela Bhakti seperti Santo Yusuf, selalu diam namun setia,” begitulah Pastor Paulus Suradibrata SJ menggambarkan pelayanan Wisma Rela Bhakti yang diberkatinya di kompleks biara kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus (OSF), Gedangan, Semarang.

Endang, 70, terharu dengan pemberkatan tempat itu. Sebagai penghuni, dia merasa wisma itu memiliki fasilitas yang sangat baik. “Saya tidak pernah menyangka, rumahnya bagus, ada Gua Maria, tempat tidurnya bagus, kamarnya juga sangat luar biasa,” katanya.

Wisma itu dimulai tahun 1992, saat Antonius Gunawan dan beberapa teman yang tergabung dalam Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) mulai merintis pelayanan untuk perempuan-perempuan berusia lanjut yang membutuhkan perlindungan, yang tidak bisa merawat dirinya sendiri, dan tidak mempunyai biaya untuk merawat dirinya sendiri.

“Mereka mulai pergi ke kampung-kampung untuk menolong orang-orang yang sakit lanjut usia dan tidak ada yang merawat,” cerita Pastor Sura. Karena merasa pelayanan mereka kurang efektif dan banyak perempuan yang dilayani membutuhkan perawatan intensif, Antonius Gunawan dan kawan-kawan pun mengontrak rumah di daerah Genuk untuk menampung para perempuan berusia lanjut yang membutuhkan perawatan dan perhatian.

Di penampungan itu, para perempuan berusia lanjut itu tinggal tanpa dipungut biaya. Dalam perkembangannya, akhirnya mereka bisa membangun rumah yang bisa menampung 17 penghuni. “Dan karena kebutuhan tempat tinggal bertambah, akhirnya, hunian pun ditambah dengan menempati sebidang tanah di komplek biara OSF di Gedangan yang bisa menampung 25 orang, jelas Pastor Sura.

Selama pembangunan berlangsung, para penghuni tinggal sementara di novisiat OSF. Saat ini ada 34 orang yang tinggal di Wisma Rela Bakti yang terbagi dalam dua tempat. Di dua wisma itu, para perempuan berusia lanjut diasuh oleh para perawat yang siap melayani mereka selama 24 jam sehari.

“Saya kagum atas iman mereka. Saya kagum, karena mereka mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi, mengandalkan Tuhan sendiri, dan nyatanya, sampai sekarang tidak pernah kekurangan biaya,” kata Pastor Sura dalam Perayaan Ekaristi pemberkatan rumah kedua di kompleks Biara Suster-suster Santo Fransiskus (OSF) di Gedangan.

Berkat Tuhan tidak pernah berkekurangan meskipun pengelola harus menanggung segalanya, baik kebutuhan sehari-hari, ketika ada penghuni yang sakit, maupun ketika ada penghuni yang meninggal dunia, jelas imam itu. “Banyak umat dan donatur dengan caranya masing-masing turut mendukung jalannya pelayanan itu,” tegas imam itu.

Pastor yang berkarya di Paroki Purbayan itu mengatakan, Kerahiman Allah sungguh nyata melalui kerabat-kerabat yang menolong orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan itu. Pelayanan itu, “membanggakan dan pantas digelorakan supaya umat betul-betul terlibat,” kata imam itu seraya menambahkan bahwa banyak umat tergerak membantu pelayanan di wisma itu. “Jadi, keterlibatan umat sangat penting, bahkan sangat formatif bagi yang melayani dan bagi umat sendiri,” lanjut imam itu.

Kongregasi OSF pun tergerak melihat semangat pelayanan umat di Wisma Rela Bhakti. Maka, untuk membantu pelayanan itu, kongregasi menyediakan sebidang tanah yang di atasnya kemudian dibangun wisma kedua. Suster Ignace Marie OSF berharap tempat itu sungguh membantu siapa saja yang tinggal. “Ini salah satu keterlibatan kami, memberikan tempat ini, ikut memperhatikan tempat ini,” kata suster.

Agar pelayanan itu berlanjut, Suster Ignace berharap agar pelayanan itu diteruskan oleh para penerus lebih muda mengingat banyak pelayannya mulai berusia tua.

Pastor Paroki Santo Yusuf Gedangan FX Arko Sudiono SJ berharap siapapun bisa bekerja sama untuk melayani di Wisma Rela Bhakti.  “Rela Bhakti itu persekutuan yang mengatasi bangsa, negara dan bahasa, sehingga semua yang mau berbuat kasih bisa dan dengan suka hati diterima, bergabung.”

Kalau mau mandi, Endang tak mengambil air lebih dahulu, seperti dulu di kampung, nimba air pakai kerekan, dan mandi pakai gayung. “Tapi sekarang mandinya tidak pakai gayung lagi. Di sini ada air panas, air dingin, airnya melimpah,” katanya usai Perayaan Ekaristi yang diikuti penghuni wisma, donatur, dan sejumlah tamu undangan, 19 Maret 2016. (Lukas Awi Tristanto)

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan