Paskah TNI-Polri

Bukan Paus saja yang bisa memberi tanda kehadiran Kristus. Para pejabat negara, termasuk pemerintah daerah, juga bisa memberi tanda kehadiran Kristus. Sikap Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, yang berani mempertahankan sikapnya membela pendirian Gereja Santa Clara di Bekasi sebagai tanda kehadiran Kristus.

Uskup TNI/Polri Mgr Ignatius Suharyo berbicara homili Misa Paskah Bersama Prajurit TNI, Polri, PNS di lingkungan matra tersebut, purnawirawan, keluarga, dan mitra Keuskupan Umat Katolik TNI/Polri di Gereja Santo Agustinus, Kompleks Angkasa, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur,  4 April 2016.

“Kepala daerah yang berani membela hak warga merupakan tanda Kristus sungguh bangkit dan hidup di tengah kita. Walikota Bekasi itu adalah tanda paling jelas bahwa Kristus sungguh bangkit dan berkarya di tengah kita,” kata Mgr Suharyo.

Uskup Agung Jakarta itu yakin  bahwa harmonisasi prajurit TNI atau Polri serta rakyat “merupakan tanda bahwa Kristus sungguh bangkit dan berkarya di tengah kita.”

Paskah bersama itu diawali Misa yang bertema, “Jadikan Semangat Paskah Tahun 2016 untuk Meningkatkan Harmonisasi Prajurit dengan Rakyat Agar Bersama Rakyat, TNI dan Polri Kuat, Hebat, Profesional, dan Siap Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian.” Dalam Misa itu. Uskup TNI/Polri didampingi oleh Pastor TNI/Polri Pastor Ronny Netowuli Pr serta dua imam lain.

Mgr Suharyo menegaskan bahwa penampakan diri Yesus setelah kematian hanya mau menunjukkan bahwa Yesus benar-benar hadir di tengah para murid-Nya, maka kejadian atau peristiwa yang terjadi saat ini juga mau menunjukkan bahwa Yesus Kristus benar-benar hadir dan berkarya bagi manusia.

Dalam homili itu Mgr Suharyo menceritakan apa yang dilakukan saat Kamis Putih. “Tidak seperti biasanya, Paus tidak merayakan Kamis Putih di Basilika Santo Petrus, tetapi di tengah para pengungsi. Paus juga memilih para pengungsi, yang di antaranya beragama Islam, dan kaum perempuan, untuk acara pembasuhan kaki.”

Tindakan Paus Fransiskus itu, menurut Mgr Suharyo, menunjukkan bahwa Kristus sungguh bangkit, hadir, dan bekerja di antara kita. “Ketika kita tercabik-cabik karena perbedaan agama, Paus memberi tanda bahwa agama bukan untuk mencabik-cabik,” kata Uskup Suharyo di hadapan umat yang memenuhi gereja itu.

Usai Misa itu, panitia menggelar makan bersama dan tatap muka dengan Mgr Suharyo. Ketua Panitia Paskah 2016, AKBP Gaspar Mikel da Costa mengatakan, Paskah bersama kali ini sangat istimewa karena dihadiri dan dipimpin oleh Uskup TNI/Polri Mgr Ignatius Suharyo.

Dalam tatap muka yang dimoderatori Pastor Ronny Netowuli, banyak peserta melontarkan pertanyaan, termasuk meminta bantuan Uskup Suharyo terkait kendala pendirian gereja di tempat tinggal mereka.

Menjawab pertanyaan dan permintaan peserta, Mgr Suharyo menegaskan bahwa tatap muka itu tidak dimaksudkan untuk mencari semua solusi atau mencapai target tertentu, melainkan untuk saling meneguhkan. “Tiap perjumpaan adalah peristiwa iman, keselamatan. Mudah-mudahan peristiwa ini merupakan kesempatan untuk saling meneguhkan, mengingatkan,” kata Mgr Suharyo. (Very Herdiman)

Paskah Bersama TNI-Polri

Tatap Muka TNI

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan