IMG_1904

Tuhan memerlukan pujian kita yang lebih jujur, yang lebih sesuai dengan keadaan yang sungguh-sungguh kita hidupi, jelas seorang imam dari Paroki Santo Thomas Rasul Bedono menanggapi pertanyaan PEN@ Katolik tentang penggunaan blarak (daun kelapa, Jawa) dan janur (daun kelapa yang masih muda berwarna kekuningan, Jawa) dalam perarakan dan perayaan Ekaristi Minggu Palma di Bedono, 20 Maret 2016, pagi.

Menurut Pastor Patricius Hartono Pr yang bertugas sebagai kepala paroki itu, di sekitar Bedono banyak terdapat blarak dan janur yang sudah sejak zaman leluhur dipakai dalam berbagai keperluan. “Itu alasannya mengapa hari ini, lalu prosesinya lebih berwarna bukan (daun) palma (palem) tetapi blarak, janur, supaya kita belajar menghargai kembali apa yang bahkan oleh leluhur kita menghargainya,” kata imam itu.

Selain daun palma (palem), nampak di hari Minggu Palma itu umat datang ke gereja membawa blarak dan janur yang dibentuk menjadi aneka hiasan. Ada yang membentuk Yesus, wayang, gunungan, belalang, keris, kuda lumping, ketupat, payung dan sejenisnya. Aneka bentuk palma, blarak dan janur itu mewarnai perarakan Minggu Palma di paroki itu.

Dalam prosesi perarakan itu nampak iring-iringan kelompok seni reog, beberapa prodiakon membawa wayang janur, serta mobil hias dan drumband. Prosesi yang dimulai pukul 08.00 dari halaman SMP Theresiana Bedono, keluar lewat pintu depan stasiun kereta Bedono, menyusur jalan raya, masuk kampung Krajan lalu menyeberang jalan raya untuk kemudian masuk ke gereja.

Pada tahun yang lalu, lanjut imam itu, sarana yang digunakan pada waktu perarakan Minggu Palma adalah dedaunan dari berbagai macam tumbuhan.  “Minggu Palma kali ini lebih berfokus pada blarak dan janur,” tegas imam itu.

Palma (palem), menurut imam diosesan itu, bukan nama salah satu tumbuhan, namun keluarga palmae dan kelapa yang berdaun blarak dan janur adalah salah satu keluarga palmae. “Untuk yang di perkotaan, mungkin palma (palem) itu lebih cocok, karena mudah menanamnya dan mudah mencarinya. Tetapi untuk kita yang berada di desa, sungguh menjadi lebih nyata bagaimana kita harus bersahabat dengan blarak dan janur,” kata Pastor Hartono mengingat dalam kesehariannya masyarakat akrab menggunakan sarana yang terbuat dari blarak dan janur seperti sapu lidi, ketupat, getepe, penjor dan aneka mainan.

“Jadi, mengapa kita tidak belajar menghargainya secara lebih khusus bahwa dengan blarak dan janur ada begitu banyak hal yang bisa kita buat, bisa kita lakukan seperti hari ini?” tanya imam itu.

Dalam bingkai eko-pastoral, lanjut Pastor Hartono, pelestarian keutuhan ciptaan tak mungkin terjadi tanpa pada saat yang sama mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. “Blarak-janur yang dimiliki umat  dan yang memang dipakai dalam keseharian semestinya lebih dipromosikan daripada sekadar menghargai palem hias.”

Pastor Hartono mengatakan, Tuhan berkenan menerima puji-pujian dari semua makhluk-Nya, bukan hanya palem hias tapi juga blarak-janur, bahkan blarak kering pun tak akan ditolak oleh-Nya.

Dalam homilinya, Pastor Hartono juga memberikan peneguhan kepada umat bahwa hidup tidak hanya sukacita saja, namun juga ada kesedihan dan penderitaan. “Ada saat kita harus berani menghadapi sepi, sendiri, sedih, menderita. Berbahagialah yang masih bisa menghadapi kedua-duanya dengan tetap teguh,” tegas imam itu.

Pastor Hartono berharap, umat bisa menyatukan seluruh kepedihan dan penderitaan hidupnya dengan penderitaan Yesus pada Pekan Suci ini “supaya lalu kita yang ikut merasakan penderitaan kematian Yesus, juga boleh bangkit dalam kemuliaan.”(Lukas Awi Tristanto)

IMG_2035

IMG_1844

Tinggalkan Pesan