Judas' 30 pieces of silver

PEKAN SUCI (U)
Santo Alfonsus Toribo;
Santa Siblina Biscossi; Santo Dimas

Bacaan I: Yes. 50:4-9a

Mazmur: 69:8-10.21-22.31.33-34; R:14cb

Bacaan Injil: Mat. 26:14-25

Sekali peristiwa pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: ”Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: ”Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus: ”Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: ”Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab: ”Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: ”Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: ”Engkau telah mengatakannya.”

Renungan

Yesaya memuji Hamba Tuhan sebagai sosok yang rajin mendengarkan sabda Tuhan. Maka Ia diperkenankan untuk mewartakan sabda-Nya. Dalam pewartaan-Nya, Ia tidak pernah luput dari kesulitan padahal Ia tetap setia. Akan tetapi, Ia yakin bahwa Allah Bapa selalu menolong dan mendampingi dalam setiap kesulitan-Nya.

Gambaran Yesaya di atas terbukti nyata dalam hidup Yesus. Yesus adalah sosok yang setia dan taat kepada kehendak Bapa-Nya. Ia mewartakan Sabda Tuhan dan menolong setiap orang yang memerlukan bantuan. Ia juga merupakan sosok yang tidak pernah luput dari macam-macam kesulitan, bahkan sampai-sampai Ia dicemooh dan dikhianati oleh orang terdekat-Nya sendiri.

Namun demikian, Yesus bukanlah korban dari orang-orang yang berkhianat. Sengsara dan penderitaan-Nya terjadi karena Dia sendiri yang memilih setia kepada Bapa-Nya. Dia rela sengsara bahkan mati di kayu salib karena ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya dan kecintaan-Nya kepada manusia. Oleh karena itu, Ia selalu yakin bahwa penderitaan yang Ia alami adalah jalan menuju pemenuhan kehendak Allah dan penyelamatan manusia.

Kita juga adalah hamba Allah, mengikuti jejak Kristus, Juruselamat kita. Dalam untung dan malang, suka dan duka, kita tetap setia pada Tuhan dan berharap penuh akan penyelamatan-Nya.

Ya Bapa, semoga aku Engkau perkenankan memperoleh penebusan berkat misteri sengsara dan wafat Putra-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan