jesus-washing-feet

KAMIS PUTIH (P)
Santa Katarina dari Swedia

Bacaan I: Kel. 12:1-8.11-14

Mazmur: 116:12-13.15-16bc.17-18; R: 1Kor. 10:16

Bacaan II: 1Kor. 11: 23-26

Bacaan Injil: Yoh. 13:1-15

Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: ”Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: ”Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya: ”Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: ”Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya: ”Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: ”Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: ”Tidak semua kamu bersih.” Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Renungan

Yesus bersama para rasul mengadakan malam perjamuan terakhir. Ia makan bersama para sahabat terdekat-Nya. Hal ini merupakan ungkapan cinta kasih yang luhur. Roti yang satu dan piala yang sama mempersatukan mereka dalam cinta kasih-Nya. Yesus kemudian meng­anugerahkan Perjamuan cinta kasih ini kepada Gereja-Nya sepanjang masa dalam Ekaristi Kudus.

Perjamuan itu diawali dengan pencucian kaki para rasul oleh Yesus. Hal ini dilakukan Yesus sebagai tanda nyata cinta dan pelayanan-Nya kepada sesama sekaligus contoh bagi kita. Inilah tanda bagi semua orang bahwa kita menjadi murid-murid-Nya apabila kita saling mencintai.

Malam itu juga merupakan saat di mana Yesus menyerahkan diri-Nya untuk wafat di kayu salib. Jalan derita yang Ia tempuh adalah bukti ketaatan-Nya kepada Allah Bapa dan kecintaan-Nya kepada manusia. Dengan total Ia mengabdikan diri kepada Allah dan jemaat-Nya. Mari kita meneladan cinta kasih-Nya dan menimba kekuatannya setiap kali kita merayakan Ekaristi.

Ya Tuhan, perkenankanlah aku menimba cinta kasih dan hidup yang berlimpah dari misteri perjamuan-Mu yang menyelamatkan. Amin.

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan