Melempari batu

PEKAN PRAPASKAH V (U)
Santo Salvator OFM; Santo Anselmus dari Lucca;
Santo Syrillus dari Yerusalem; Beata Marta

Bacaan I: Yer. 20:10-13

Mazmur: 18:2-3a.3b-4.5-6.7; R:7

Bacaan Injil: Yoh. 10:31-42

Sekali peristiwa orang-orang Yahudi mau mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: ”Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: ”Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: ”Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah—sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan—, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: ”Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Renungan

Orang saleh terkadang dihalang oleh orang fasik. Kata dan perbuatan orang saleh belum tentu diterima sebagai kebaikan oleh semua orang. Selalu ada saja orang yang tidak sepakat, bahkan menolaknya mentah-mentah. Lebih jauh lagi orang saleh bisa dikategorikan sebagai orang fasik atau jahat.

Dalam Perjanjian Lama, Nabi Yeremia yang menyerukan pertobatan diancam oleh para sahabatnya. Namun, ia tidak putus asa. Ia sangat yakin bahwa Tuhan adalah pahlawan perang yang selalu mendampinginya. Atas nama Tuhan ia selalu mengajak para seterunya bertobat dan berdoa agar Tuhan membebaskan kepapaan mereka.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus yang menyerukan dan melakukan titah Allah ternyata berbenturan dengan orang Yahudi. Bahkan perseteruan itu hampir mengarah pada kekerasan fisik. Orang Yahudi mau melempari Yesus.

Namun, Yesus tidak takut dengan mereka. Ia berkata terang-terangan dan mengajak mereka untuk mengimani-Nya sebagai utusan Allah. Yesus terus menyadarkan mereka bahwa diri-Nya tidak menghujat Allah. Sayang, apa pun penjelasan Yesus belum bisa dipahami oleh mereka. Kelak Yesus akhirnya mendoakan mereka,”Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Cinta dan semangat orang baik tidak pernah terhenti karena tantangan.

Ya Tuhan, curahkanlah rahmat-Mu agar aku dapat mengakui bahwa Engkaulah Allahku yang berkenan menjadi perisai dan perlindunganku. Amin.

Tinggalkan Pesan