woman-taken-adultery_1188731_inl

PEKAN PRAPASKAH V (U)
Santa Eufrasia; Beato Ludovikus dari Casoria

Bacaan I: Yes. 43:16-21

Mazmur: 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; R:3

Bacaan II: Flp. 3:8-14

Bacaan Injil: Yoh. 8:1-11

Sekali peristiwa Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina. Mereka me­nempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: ”Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: ”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: ”Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: ”Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: ”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Renungan

Perjumpaan dengan Kristus membuat hidup baru. Perubahan hidup seseorang tidak tergantung pada niat atau prestasi dari pribadi yang bersangkutan, melainkan karena penebusan Kristus.

Karena Kristus, Paulus telah melepaskan segalanya dan menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Kristus telah memanggilnya untuk menempuh jalan yang Ia lalui agar dia ikut serta dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Demikian halnya dengan Maria Magdalena, jiwa dan raganya selamat karena perjumpaannya dengan Yesus. Kristus yang bangkit telah membuat pula para murid-Nya bersukacita, merasakan damai-Nya, dan berani bersaksi soal Yesus yang bangkit.

Kita juga bisa memiliki hidup yang baru. Maka biarkanlah Kristus melepaskan cara hidup kita yang lama, yang diliputi dosa dan ketidakserasian dengan Tuhan dan sesama. Biarkan Kristus memanggil kita untuk menempuh jalan-jalan-Nya. Keselamatan, damai, sukacita, dan kesanggupan bersaksi kita bisa tercipta karena Yesus berada di tengah-tengah kita.

Oleh karena itu, perjumpaan dengan Yesus adalah keniscayaan. Mari kita jumpai Kristus melalui doa-doa kita, dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya, dan lewat penerimaan Sakramen-sakramen Gereja, terutama Sakramen Ekaristi.

Ya Tuhan, ajarilah aku untuk selalu menyapa dan bukan menghakimi mereka yang menjauh dari-Mu dan dari umat-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan