Mgr-Petrus-Boddeng-Timang_01

Tema Prapaskah 2016 Keuskupan Banjarmasin adalah “Berani Memperjuangkan dan Mempertahankan Ciptaan Berdasarkan Sabda Allah.” Di satu pihak tema itu merupakan bagian dari tema Prapaskah Regio Kalimantan, yaitu “Bangkit dan Bergeraklah,” dan di pihak lain, tema Prapaskah itu disesuaikan dengan fokus pastoral Keuskupan Banjarmasin tahun 2016, yaitu Tahun Kitab Suci.

“Kita ingin menjadikan Sabda Allah sebagai pijakan bagi kita untuk memperjuangkan dan mempertahankan ciptaan,” tulis Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang dalam Surat Gembala Prapaskah 2016.

Ketika berbicara tentang ciptaan, tulis uskup itu, harus diingat bahwa Allahlah Sang Pencipta. “Kitab Kejadian memberi kesaksian bahwa Allahlah yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, termasuk manusia. Tema Prapaskah tahun ini mengajak kita untuk memperjuangkan dan mempertahankan baik alam semesta maupun manusia.”

Berkaitan dengan alam semesta, lanjut Mgr Petrus Timang, yang perlu diperjuangkan dan dipertahankan adalah kelestariannya. Allah menciptakan alam semesta baik adanya, dan dalam kisah penciptaan, penulis kitab Kejadian berulangkali menegaskan, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej 1:10,18,21,25). “Jika pada awalnya, Allah menciptakan segalanya itu baik, maka kalau sekarang keadaan alam semesta menjadi tidak baik bahkan rusak, berarti kita dipanggil untuk berjuang agar dapat memperbaikinya dan melestarikannya,” tulis uskup itu.

Mgr Timang menyinggung Enasiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus yang menyadarkan bahwa alam semesta dan seisinya ini adalah “rumah kita bersama,” tempat kita hidup dan membangun kehidupan, yang selayaknyalah kita jaga dan pelihara bersama. “Jangan sampai pandangan hidup yang rakus dan tidak bertanggung jawab mendorong manusia untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan keselamatan lingkungan hidup,” tulis surat itu.

Selain alam semesta, ciptaan Allah yang lain adalah manusia. Manusia diciptakan secitra dengan Allah bahkan menjadi gambar Allah (Kej 1:27). Kalau manusia adalah gambar Allah maka keberadaannya haruslah diperjuangkan dan dipertahankan.

Artinya, lanjut Mgr Timang, martabat dan derajatnya sebagai manusia tidak bisa dilecehkan dan dikesampingkan. “Saat ini betapa nyawa manusia seringkali tidak dihargai. Manusia menjadi begitu keji terhadap manusia lain. Pengedar dan penjual narkoba tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Yang ada dalam otak mereka, hanyalah uang dan kekayaan. Banyak manusia di jaman ini gila akan kekuasaan, kekayaan dan keuntungan. Situasi ini sangatlah memprihatinkan. Apalagi sekarang orang mudah sekali merendahkan martabat orang lain hanya karena beda suku, agama, keyakinan dan warna kulit. Manusia seakan-akan tidak ada nilai dan martabatnya,” tulis uskup.

Menanggapi situasi dan kondisi itu, Uskup Timang meminta agar umatnya tidak berdiam diri saja di masa Prapaskah ini. “Kita harus berani menentukan sikap dan berani mewujudkannya dalam sebuah tindakan. Teladan nabi Yesaya untuk mengatakan, “Inilah aku, utuslah aku” (Yes 6:8c) harus juga menjadi sikap hati kita dalam menanggapi situasi dan persoalan yang ada di sekitar kita. Kita diajak untuk berani mengambil resiko sebagai pelaku perbaikan di tengah masyarakat.”

Untuk itu, pertama-tama uskup meminta umatnya untuk membenahi diri. “Kita harus berani bertobat dari pola hidup dan pola pikir yang lama kepada pola hidup dan pola pikir yang baru. Perubahan dan perbaikan hanya akan terjadi kalau kita mau belajar dengan kerendahan hati dan keterbukaan, serta kerelaan untuk bertobat.”(pcp)

 

Tinggalkan Pesan