Mgr-Yohanes-Philipus-Gaiyabi-Saklil_02

Kerinduan hidup sejahtera lahir dan batin bukan sesuatu yang tersedia tetapi harus disediakan. Bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang diperjuangkan. Maka itu tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) mengajak kita untuk terus menerus tanpa menyerah memperjuangkan hidup yang sejahtera lahir dan batin.

Uskup Timika Mgr John Philip Saklil menulis itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2016 yang bertema “Membangun Hidup Pantang Menyerah.” Masa Prapaskah, jelas uskup, adalah “masa khusus untuk kita memeriksa dan merefleksikan kenyataan-kenyataan yang kita alami yang menghalangi hidup sejahtera.”

Mgr Saklil menyebutkan beberapa hambatan yang merusak eksistensi kemanusiaan masyarakat Gereja, masyarakat warga dan masyarakat berbangsa dan bernegara. “Kenyataan bahwa hidup pantang menyerah melalui hidup tekun, ulet dan sabar bukan milik semua orang. Semakin banyak orang menggantungkan hidupnya pada orang lain, cepat putus asa, pasrah pada kenyataan, mencari gampang, hidup konsumtif, hidup tanpa rencana, miskin di atas kekayaan alamnya.”

Selain itu, lanjut uskup, banyak kebiasaan merusak kehidupan, seperti hidup dibebani pada kredit yang melebihi pendapatan, ingin cepat kaya melalui togel dan perjudian, mencari kepuasan yang membuat onar dan kekerasan melalui alkohol, penyalahgunaan alat komunikasi digital dan dunia maya, memperkaya diri dengan korupsi hak orang banyak, menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, menjual tanah atau hutan atau dusun untuk menebus denda dan hidup berfoya, kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan persoalan.

“Kenyataan-kenyataan ini telah merusak harkat dan martabat hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dan turut menghancurkan kehidupan diri sendiri, sesama dan alam semesta,” tegas Mgr Saklil.

Uskup Timika lalu mengungkapkan harapan dengan mengatakan bahwa orang yang hidupnya pantang menyerah adalah orang yang menghargai anugerah Allah dalam dirinya dan membentuk dirinya menjadi orang yang berkemauan keras untuk maju, orang yang mempunyai pemikiran yang konstruktif dan kreatif, orang yang sabar dan tekun, dan orang yang memiliki ketahanan fisik dan mental.

“Kita tidak boleh pasrah pada keadaan. Kita jangan menyerah untuk berbuat sesuatu. Pengalaman kegagalan bukan akhir dari segalanya. Pengalaman kekurangan, bukan halangan untuk menghasilkan sesuatu. Setiap orang, Tuhan memberi daya untuk menjalankan tanggungannya. Dan setiap orang diutus Allah untuk membantu mengurangi beban orang lain,” kata uskup.

Secara khusus, Mgr Saklil mengajak dan menyapa keluarga, orang muda, dan warga gereja dan masyarakat. “Pertobatan dalam keluarga adalah membangun daya hidup kerahiman Ilahi untuk menyejahterakan kehidupan keluarga. Kita lahir dan hidup untuk keluarga dan kita tumbuh dan terbentuk dalam keluarga. Maka setiap keluarga diajak bekerja keras membangun rumah tinggal yang layak, tekun menghasilkan makan dan minum yang sehat bagi setiap anggota keluarga, menjamin pendidikan bagi anak-anak, berbagi kasih dan cinta yang menyelamatkan keutuhan hidup keluarga.”

Selain  itu, tulis Mgr Saklil dalam surat gembala itu, “Jangan biarkan anak-anak hidup tanpa kasih sayang dan jangan biarkan anak-anak hidup tanpa pendidikan. Jangan berlama-lama menumpang di rumah orang atau di rumah kontrakan atau rumah dinas. Buatlah sesuatu dari kekurangan dan kelebihanmu untuk membangun rumah kehidupan bagi keluarga.”

Kepada orang muda, Mgr Saklil mengatakan bahwa pertobatan adalah membangun daya hidup kerahiman Ilahi melalui cara hidup tekun, ulet dan sabar demi masa depan mereka. “Jangan menyia-nyiakan hidup masa mudamu. Jangan meracuni dirimu dengan alkohol dan narkoba. Jangan menggantungkan hidupmu pada orang lain. Bangunlah daya juang, daya saing dan daya pikat untuk mengelola hidupmu. Hai Orang Muda, kamu adalah wajah Gereja dan wajah masyarakat masa kini. Kalau orang lain bisa, kamu juga bisa. Kalau bukan sekarang kapan lagi.”

Kepada warga Gereja dan masyarakat, Mgr Saklil mengatakan bahwa pertobatan adalah melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. “Hindarilah segala bentuk kekerasan, permusuhan dan perpecahan yang merusak harkat dan martabat kita sebagai orang beriman. Jangan menggunakan kekuatan Negara dan kekuatan suku serta kekuatan kepentingan untuk menghalalkan kekerasan dan merampas hak-hak masyarakat kecil yang tidak berdaya. Jadikanlah pikiran, perkataan dan perbuatanmu menjadi saluran berkat bagi orang banyak. Semoga kerahiman Ilahi mendayai kita untuk hidup dalam keinginan Roh dan berbagi kepada semua orang khususnya yang menderita.”

Uskup itu juga mengajak semua umatnya untuk ikut mendoakan dan berbelarasa dan aksi kepada anak-anak terlantar dan yatim piatu, janda-janda tua, orang-orang sakit, mereka yang di penjara dan mereka terpinggirkan karena tidak mampu membantu dirinya sendiri. “Membantu yang lemah, kita sudah menyatakan pertobatan sebagai anak Allah,” tulis uskup itu.(pcp)

 

Tinggalkan Pesan