20160219_175635 (1)

Oleh Suster Charlie OP –

Menyongsong Yubileum 800 Tahun Ordo Dominikan, baru-baru ini para suster Dominikanes masa medior mengadakan kegiatan weekend dengan tema “Kerahiman Allah adalah sumber dan kekuatan dalam menghidupi persaudaraan dan perutusan Pewarta Dominikan.”

Weekend di Wisma Pojok Indah, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta, 19-21 Februari 2016, dengan pendamping Pastor T Krispurwono Cahyadi SJ itu terinspirasi oleh pencanangan Tahun Kerahiman oleh Paus Fransiskus, dengan menegaskan bahwa Yesus merupakan wajah belas kasihan Bapa-Nya.

Acara itu menyadarkan kembali kami para suster medior tentang “Panggilan Dasar Sebagai Religius.” Dengan menjadikan Kerahiman Ilahi sebagai the way of life atau pegangan dan arah hidup kami, maka kami menyadari bahwa panggilan dasar sebagai religius adalah hadir di tengah umat untuk memberi kesaksian kabar sukacita, dengan menampakkan wajah Kristus yang senantiasa membawa sukacita.

Tujuan religius Dominikan adalah hidup bersama demi pengabdian kepada Allah, yang berakar dari doa kontemplatif dan pewartaan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, seperti kata Santo Thomas Aquinas, “Contemplari et contemplata aliis tradere” yang berarti berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi itu kepada sesama.

Sementara itu, moto kami sebagai Dominikan adalah “to contemplate and share the fruits of contemplation” atau berkontemplasi dan membagikan buah-buah kontemplasi itu, karena kami tidak bisa memberi kalau kami tidak punya sesuatu untuk dibagikan. Dalam Yubileum Kerahiman atau Belas Kasih ini, kami pun semakin didorong untuk “pergi dan menjadi  pewarta belaskasih.”

Dalam weekend itu, Pastor Cahyadi mengutip dorongan Paus Fransiskus agar, “kaum religius jangan seperti orang yang baru pulang dari kuburan dengan wajah suram dan penuh duka cita, tetapi hendaklah menampakkan betapa indahnya hidup sebagai religius.” Kami pun semakin yakin bahwa dengan menampakkan indahnya hidup sebagai religius, kami tidak perlu lagi berkhotbah ke mana-mana untuk promosi, karena yang terpenting adalah kesaksian hidup itu sendiri, karena hidupnya sendiri adalah sebuah khotbah.

Sebagai religius kami pun semakin menyadari bahwa panggilan dasar kami adalah hadir di tengah umat dengan menjalani hidup taat, perawan dan miskin, taat dalam penyerahan diri, perawan karena cinta dibaktikan kepada Tuhan, dan miskin demi perutusan yang menghadirkan wajah Kristus dengan penuh sukacita. Kami dipanggil supaya hidup kami memberi kesaksian tentang Yesus, sumber kekuatan, dan menyadari bahwa Yesus mencintai kita dengan memberikan diri secara utuh.

Selain dipanggil untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh sukacita, kami disadarkan untuk mau terlibat dan merangkul yang lemah dan menderita, “sehingga kami bukan history tetapi His story, bukan diri kami yang kami wartakan melainkan Dia.” Selain itu, kami harus menemukan pesan Allah lewat diri kami sebagai religius “dengan menampakkan kehadiran sukacita Allah.”

Sebagai religius kami punya tanggung jawab yang melekat dalam nama kami saat ini. Singkatan yang tertulis di depan nama (Sr, Rm, atau Br) berarti kaum religius itu milik Gereja, dan singkatan di belakang nama (SJ atau OP, dan lain-lain) berarti kaum religius itu milik kongregasi atau ordo. Maka perilaku kaum religius yang tampil mewakili Gereja dan kongregasi atau ordo tidak lagi seenaknya. Kami sadar, karena kaum religius menjalani consecrated life atau hidup bakti untuk Tuhan dan untuk sesama.

Weekend ini mengingatkan, meskipun mengikrarkan kaul kemiskinan, kenyataannya hidup kaum religius nampak tidak pernah berkekurangan secara materi. Namun, kaum religius akan menjadi miskin cinta dalam perutusan, kalau cintanya pudar atau menjadi tawar karena ego dan rasa nyaman. Memiliki jabatan atau barang yang banyak menjadikan para religius lekat dan nyaman sehingga kurang lincah diutus, sulit dipindahkan melaksanakan tugas perutusan.

Kami juga diingatkan, kurang toleransi dalam hidup berkomunitas akan membuat kami mudah menuntut dan mengeluh dalam menyelesaikan persoalan hidup. Wah, kami sebagai medior harus hati-hati dalam pengolahan hidup, agar perutusan kami bisa maksimal.

Tiga hal yang menyertai para religius adalah identitas, komunitas, dan perutusan. Identitas (relationship with God). Kekhasan hidup kaum religius adalah pendoa. Kerasulan pertama dan utama adalah berdoa, maka kalau kami tidak bisa berdoa perlu dipertanyakan identitas kereligiusan kami. Komunitas (community). Memang kami dipanggil secara personal, tetapi kami juga dipanggil untuk hidup dalam kebersamaan di komunitas. Perutusan (mission). Dengan pembaptisan, kami dipanggil untuk diutus. Ketika menerima Sakramen Penguatan, kami siap untuk diutus, menjawab panggilan: ”Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil.”

Dalam weekend itu kehadiran kaum religius yang hidup bersama dibenarkan. Pastor Cahyadi bercerita tentang sepasang remaja yang sedang jatuh cinta, yang saling menyesuaikan selera. “Demikian pula indikator kita jatuh cinta kepada Allah, hendaklah hidup kita memandang dengan cara Allah,” kata imam itu seperti ingin mengatakan kepada dunia dan orang banyak bahwa hidup bersama menjadi mungkin.” Allah tersembunyi (Deus absconditas), Allah mewahyukan atau menyingkapkan lewat Yesus Kristus (Deus revelatus), Allah mengajak manusia dengan cara manusia memandang dunia, sebagaimana Allah memandang dan bertindak supaya manusia selamat, begitu penjelasannya.

Betapa indahnya menjadi religius. Weekend itu memberikan kekuatan bagi panggilan kami sebagai Dominikan. Kami dikuatkan dengan perkataan Paus Fransiskus bahwa, “Tidak ada krisis panggilan di mana ada kaum religius, karena para religius hadir dan menampakkan kesaksian sukacita betapa indahnya menjadi religius.” Ya, benar seperti dikatakan oleh Santo Fransiskus Asisi bahwa pewartaan pertama-tama adalah hidup kita sendiri.***

20160220_090515

Tinggalkan Pesan