Mgr-Nicolaus-Adi-Seputra-MSC_02

Paus Fransiskus, dalam Bulla Pemakluman Yubileum Luar Biasa Kerahiman, meminta umat beriman agar “masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini dihayati secara lebih mendalam sebagai saat istimewa untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah.”

Melalui ajakan untuk mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan mendorong umat untuk menyediakan waktu “24 Jam bagi Tuhan,” tulis Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Seputra MSC dalam Surat Gembala Prapaskah 2016 Keuskupan Agung Merauke, Paus Fransiskus “berusaha menekankan keutamaan mendengarkan sabda Allah, terutama sabda kenabian-Nya dengan hati yang dipenuhi doa dan ucapan syukur.”

Kerahiman Allah, lanjut Paus, adalah warta keselamatan bagi dunia, sebuah kabar yang menekankan bahwa setiap orang Kristiani dipanggil untuk mengalaminya secara langsung. “Karena alasan ini, selama masa Prapaskah beliau akan mengutus para Misionaris Kerahiman sebagai tanda nyata bagi semua orang tentang kedekatan dan pengampunan Allah,” tulis surat itu.

Kerahiman, lanjut surat itu, mengungkapkan cara Allah menjangkau orang berdosa, menawarkan kepadanya kesempatan baru untuk memandang diri Allah, bertobat dan percaya (Misericordiae Vultus, MV 21), dan dengan demikian, memulihkan hubungan manusia dengan Dia. “Dalam Yesus yang disalibkan, Allah menunjukkan keinginan-Nya untuk mendekati orang-orang berdosa, meskipun mereka mungkin jauh telah menyimpang dari hadapan-Nya,” tegas Mgr Seputra.

Dikatakan bahwa Kerahiman Allah mengubah hati manusia. “Ia memungkinkan kita, melalui pengalaman akan kasih dan kesetiaan Allah, menjadi orang yang penuh kerahiman. Kerahiman ilahi bersinar dalam kehidupan kita, mengilhami kita masing-masing untuk mengasihi sesama dan untuk mengabdikan diri kita melalui karya-karya kerahiman rohani dan jasmani. Misalnya, memberi makan, mengunjungi, menghibur dan memberi petunjuk serta menolong mereka yang membutuhkan bantuan kita,” tulis uskup agung itu.

Oleh perbuatan-perbuatan seperti itulah kita akan dihakimi. Karena alasan ini, demikian surat itu, Paus Fransiskus meminta agar “umat Kristiani sudi merenungkan karya-karya kerahiman jasmani dan rohani. Hal ini akan menjadi suatu cara untuk membangunkan kembali hati nurani kita, dan masuk lebih dalam ke jantung Injil di mana orang miskin, tertindas, dan orang-orang yang tidak berdaya, memiliki pengalaman khusus akan kerahiman Allah” (MV 15). Di situ juga tertulis, “Daging atau tubuh jasmani Kristus” menjadi kelihatan dalam daging dari orang-orang yang disiksa, ditindas, kurang gizi, dan orang-orang yang diasingkan …. Mereka ini butuh untuk diakui, dijamah, dan dirawat oleh kita.”

Kristus adalah misteri kasih yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan pertanyaan besar: mengapa Anak Domba yang tak berdosa, harus menderita? Di hadapan kasih ini, kata Mgr Seputra, “kita bisa, seperti Musa, melepas kasut (kemapanan, kenyamanan, dan kedudukan) kita (bdk. Kel 3:5), terutama ketika orang-orang miskin adalah saudara atau saudari kita di dalam Kristus yang sedang menderita karena iman mereka.”

Maka selain berpantang dan berpuasa di hari Rabu Abu dan Jumat Agung, Mgr Seputra minta umatnya untuk membuat tanda pertobatan, yakni “bersama dengan Yesus yang mengundang kita untuk menunjukkan pribadi Allah dan kerahiman-Nya, marilah berusaha untuk tidak bergosip, makan secukupnya dan tidak membuang makanan, membeli barang-barang yang sederhana (tidak mewah), mengunjungi orang sakit, orang susah, atau lansia, berhenti menghakimi sesama, tetap bersahabat dengan mereka yang tidak sepaham dengan kita, menjadikan berdoa setiap hari sebagai kebiasaan, setia janji dengan orang lain seperti yang dilakukan pasutri, tetap percaya bahwa Tuhan menyertai kita, menjaga kebersihan rumah, halaman dan saluran-saluran air, menjaga hutan, sungai, rawa dan laut demi anak cucu kita, dan membangun daerah kita dalam suasana aman dan damai.”

Dengan demikian, Uskup Agung Merauke percaya bahwa melalui pertobatan umatnya semakin banyak orang mengalami kerahiman Tuhan.(pcp)

Tinggalkan Pesan