Hukum yang utama

PEKAN PRAPASKAH III (U)
Santo Kasimirus; Beata Humbelina
Santo Lusius, Paus; Beata Placida

Bacaan I: Hos. 14:2-10

Mazmur: 81:6c-8a.8b-9.10-11ab.14.17; R:11.9a

Bacaan Injil: Mrk. 12:28b–34

Sekali peristiwa seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: ”Hukum mana­kah yang paling utama?” Jawab Yesus: ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: ”Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Me­mang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Nabi Hosea melukiskan cinta kasih Allah kepada Bangsa Israel. Allah Israel itu Allah yang maha pengasih dan penyayang. Ia selalu mencintai dan mengampuni orang Israel apabila mereka mengakui kesalahannya dan bertobat. Nabi Hosea menegaskan bahwa hati yang jujur lebih berharga daripada kurban bakaran atau kurban persembahan. Kepada berhala buatan manusia, orang Israel tidak akan berkata: Engkaulah Allah kami.

Yesus menunjukkan hal yang paling inti dalam kehidupan kita, yakni cinta kepada Allah dan kepada sesama. Akan tetapi, cinta yang Yesus maksudkan adalah cinta yang memiliki kualitas luhur; bukan cinta biasa, apalagi sekadarnya. Yesus mengajak kita untuk mencintai Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Adapun kualitas cinta kita kepada sesama takarannya adalah seperti mencintai diri sendiri. Inilah hal yang diperlukan untuk memasuki Kerajaan Allah.

Peristiwa Kalvari adalah bukti bahwa Yesus bukan hanya mengajarkan hukum cinta kasih itu, melainkan juga menghayatinya. Cinta Yesus kepada Allah dan kepada sesama Ia wujudkan secara mengagumlam lewat misteri penderitaan dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Peristiwa Kalvari membuktikan bahwa hukum cinta kasih bukan semata-mata idealisme sebuah ajaran, namun bisa diwujudkan dalam kenyataan. Kini giliran sekaligus kesempatan bagi kita, pengikut Kristus, untuk membuktikan kualitas cinta kita kepada Tuhan dan sesama, agar kita pun tidak jauh dari Kerajaan Allah.

Ya Tuhan, curahkanlah rahmat-Mu dalam hatiku agar aku selalu setia kepada perintah cinta kasih-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan