Yesus-mengusir-setan-HIDUP-KATOLIK

PEKAN PRAPASKAH III (U)
Santo Marinus; Santo Nikolo d` Albergati;
Santa Kungunde

Bacaan I: Yer. 7:23-28

Mazmur: 95:1-2.6-7.8-9; R:8

Bacaan Injil: Luk. 11:14-23

Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata: ”Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: ”Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”

Renungan

Jemaat Nabi Yeremia tidak mendengarkan dan mematuhi ajaran Tuhan. Mereka bersikeras dalam kedurhakaan. Nabi-nabi yang mengingatkan mereka akan kebajikan pun mereka tolak. Bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat daripada nenek moyang mereka.

Nabi Yeremia diutus Allah untuk kembali menunjukkan jalan lurus kepada mereka. Akankah mereka mendengarkan dia atau lebih mengutamakan kedegilan hatinya?

Pada zaman sekarang pun kita kerap kali hidup dalam kedegilan hati. Kita tegar tengkuk dan menjadikan diri sendiri sebagai patokan kebenaran. Nilai-nilai luhur di luar diri sendiri kita abaikan, bahkan kita tolak. Namun, sanggupkah kita menolak cinta Tuhan Yesus Kristus?

Dengan kewibawaan dan kekuasaan, Yesus mengusir setan yang membisukan. Ia membuat orang bisu itu berkata-kata sekaligus menjadikan semua orang yang menyaksikan mukjizat itu keheran-heranan. Dalam kesempatan itu, Dia juga membuktikan kepada pengikut-Nya bahwa kekuasaan-Nya melebihi kekuasaan setan. Maksud Yesus ialah agar mereka tahu bahwa karya-Nya itu disertai kekuasaan Ilahi.

Sabda Yesus, ”Yang tidak mengikuti Aku, melawan Aku” mengajak kita agar kita berada di pihak-Nya. Dengan demikian, kewibawaan dan kekuasaan-Nya akan menguasai hidup kita, tak terkecuali mengusir kedegilan dan eogisme kita. Bersama dengan Yesus kita bebas dari hukuman dosa.

Ya Tuhan, semoga langkahku selalu Engkau atur agar senantiasa mampu menghayati perintah-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan