alam sutra smnar

Keluarga Katolik yang ingin mewujudkan keluarga bahagia, rukun, damai dalam sukacita Injil dapat meneladani sosok Bunda Maria, kata Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, seraya menegaskan ada banyak hal yang dikisahkan dalam Injil, satu di antaranya ketika Bunda Maria dan Yosef  mencari Yesus yang sedang mengajar di bait Allah.

“Setiap pengalaman atau peristiwa hidup bisa menimbulkan reaksi tertentu. Saat Yesus diketemukan di bait Allah, bisa saja sebagai manusia Bunda Maria meluapkan rasa marahnya kepada Yesus, karena ia bersama Yosef letih mencarinya. Tapi reaksi Bunda Maria adalah mengalami peristiwa itu, menyimpan semua dan merenungkan dalam hatinya,” kata Mgr Suharyo dalam pengantarnya mengawali seminar sehari bertajuk “Menuju Keluarga Katolik dalam Sukacita Injil” di aula gereja Paroki Santo Laurensius, Alam Sutera, Tangerang Selatan, 27 Februari 2016.

Seminar, yang diselenggarakan oleh Marriage Encounter (ME) bekerja sama dengan kelompok kategorial lainnya dan diikuti sekitar 3000 umat, pasangan suami istri  berasal dari perwakilan seluruh paroki di KAJ itu, juga dihadiri Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC.

Sesi pertama seminar dengan pengantar dari Mgr Suharyo itu dimoderatori oleh Ketua Kerasuan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta Pastor A Erwin Santoso MSF. Saat itu peserta mendengarkan kesaksian dari Pasutri Maria Endang-Yosep Agung dari Keuskupan Surabaya dan Pasutri Aloisius Sanjaya-Esther Sanjaya dari Paroki Kelapa Gading, Jakarta.

Sedangkan sesi kedua, yang dimoderatori oleh Sekretaris Eksekutif Kerasulan Keluarga KWI Pastor Hibertus Hartono MSF, mendengarkan pengantar dari Mgr Subianto serta sharing dari Pasutri Rachel-Wirya dan Pasutri Pocki Wijaya-Acu Wijaya.

Menurut Mgr Suharyo, Tuhan hadir dalam hati Maria dan selalu menuntun perjalanan hidupnya sehingga lewat Maria terjadilah penggenapan karya keselamatan umat manusia. “Maria menunjukkan kesetiaan, ketaatan, dan kesabaran mendampingi Yesus. Inilah yang menjadi contoh bagi keluarga Katolik,” kata Mgr Suharyo seraya mengajak peserta untuk selalu menghayati sukacita Injil.

Mgr Subianto menegaskan bahwa keluarga merupakan rumah kekudusan dan sekolah kemanusiaan. “Paus Yohanes Paulus II pernah menegaskan bahwa keluarga adalah sekolah kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian keluarga Katolik. Dalam keluarga yang penuh sukacita Injil akan hadir atau bertumbuh kasih, persaudaraan dan cinta antaranggota keluarga,” kata Uskup Bandung.

Mgr Subianto juga mengajak keluarga Katolik untuk meneladani keluarga kudus Nazaret. “Keluarga kudus Nazaret ini adalah keluarga yang menghidupinya dengan penuh cinta dan keikhlasan.”

Mantan koordinator ME Nasional, Pasutri  Endang-Agung, mengatakan meskipun hidup berkeluarga mereka dihadapkan dengan berbagai cobaan pasangan, namun mereka tidak pernah melupakan kehidupan doa dalam berumah tangga serta Devosi Bunda Maria. “Keluarga dipertahankan dengan doa dan kerja keras untuk merawatnya,” kata Endang.

Pasutri Aloisius-Esther membesarkan dua puteranya dengan selalu mengandalkan doa. Mereka sangat bahagia karena kedua puteranya memilih menjadi pelayan Tuhan atau misionaris di Amerika Serikat dan Perancis.

Pasangan lainnya Pocky-Accu dan Rachel-Wirya sependapat bahwa berkeluarga merupakan panggilan hidup yang mesti dijalani. Mereka pun menghadapi situasi tertentu yang membuat iman mereka kurang bertumbuh, namun Tuhan mahakasih selalu menolong sehingga semua tantangan mereka lewati dengan baik. (Konrad R. Mangu)

 

Tinggalkan Pesan