Yesus-ditolak-waktu-di-Nazaret-300x186

PEKAN PRAPASKAH III (U)
Santo Gabriel Possenti; Santo Leander

Bacaan I: 2Raj. 5:1-15a

Mazmur: 42:2.3; 43:3.4; R:42:3

Bacaan Injil: Luk. 4:24-30

Ketika Yesus datang ke Nazaret, Ia berkata kepada umat di rumah ibadat: ”Aku berkata kepa­damu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Renungan

Kesembuhan yang ditawarkan Tuhan adalah sesuatu yang bersifat umum. Siapa saja yang mau menerima kasih dan kebaikan-Nya, akan diselamatkan. Naaman menjadi contoh bahwa belas kasih Tuhan bukan hanya bagi orang Israel, melainkan bagi siapa saja yang mau menerima Allah sebagai Penyelamat.

Kita sering sebagai orang Kristiani justru kurang percaya kepada Tuhan kita, karena merasa sudah biasa, sudah rutin, atau bahkan merasa hambar dengan aktivitas rohani yang begitu-begitu saja. Jika demikian, kita sama saja dengan orang-orang Yahudi di kampung asal Yesus, yang menolak Yesus. Meskipun kita terhitung dalam orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus, tetapi dalam hidup sehari-hari, kita bisa hidup jauh dari yang diharapkan oleh Tuhan.

Yesus mengatakan sesuatu yang baik, mengingatkan kita untuk selalu berpegang pada janji keselamatan-Nya. Jangan meragu, jangan berhenti berjuang bersama Dia. Tetaplah bertekun dalam doa, agar keajaiban hidup tetap kita alami ketika tampaknya semua usaha manusiawi sia-sia.

Ya Yesus, aku ingin bertobat dari perasaan tawar hatiku. Buatlah hidup rohaniku dikobarkan dengan cinta dan rindu kepada-Mu. Supaya aku boleh menikmati buah-buah rohani dari imanku. Amin. 

 

Tinggalkan Pesan