foto uskup maumere (1)

Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD mengajak umatnya di Keuskupan Maumere untuk membaharui diri dan mengalami Allah yang maharahim dalam rahmat rekonsiliasi. Rekonsiliasi dengan Allah dimungkinkan melalui misteri Paskah dan pengantaraan Gereja, lanjut uskup seraya menegaskan bahwa Allah selalu dan terus-menerus secara baru dan mengejutkan siap dan tidak pernah lelah mengampuni.

“Karena itu pada Tahun Yubileum Kerahiman ini saya mengajak umat, para imam, biarawan-biarawati di Keuskupan Maumere ini untuk membarui diri, mengalami Allah yang maharahim dalam rahmat rekonsiliasi melalui penerimaan Sakramen Tobat. Sakramen ini adalah tanda nyata belas kasih Allah kepada kita,” tulis Mgr Kherubim dalam Surat Gembala Prapaskah 2016 yang dibacakan di gereja-gereja di 36 paroki di Keuskupan Maumere pada hari Minggu, 14 Februari 2016.

Dalam kaitan itu, uskup itu menegaskan bahwa Keuskupan Maumere akan mengambil bagian dalam prakarsa “24 Jam bagi Tuhan” dalam bentuk penyembahan atau adorasi Sakramen Mahakudus (Adorasi) seperti yang dianjurkan oleh Paus Fransiskus.

Seperti paroki-paroki di seluruh dunia, prakarsa itu akan dibuka dalam Perayaan Ekaristi tanggal 4 Maret 2016 dan ditutup dalam Perayaan Ekaristi 5 Maret 2016 atau Sabtu sebelum Minggu Prapaskah IV. Prakarsa itu, lanjut uskup, juga memberi tempat istimewa untuk Sakramen Tobat baik di paroki-paroki maupun di komunitas-komunitas religius.

Dalam surat gembala itu Uskup Maumere mengatakan akan “berdoa agar saudara-saudari sekalian sanggup membaharui diri dan menjadi misionaris-misionaris kerahiman Allah kepada sesama dan lingkungan di mana Anda berada. Saya berharap agar seluruh umat dapat mendalami dan mengalami kerahiman Allah melalui pertemuan-pertemuan katekese, ibadat Jalan Salib tematis dan pengakuan dosa.”

Mgr Kherubim secara khusus menulis tentang kepedulian terhadap sesama dan hormat terhadap bumi. “Menghidupi kesetiakawanan dan kepedulian kepada sesama adalah keharusan yang dijalankan dengan sukacita yang besar. Menghidupi kesetiakawanan dan kepedulian kepada sesama adalah keharusan yang dijalankan dengan sukacita yang besar oleh murid-murid Yesus,” kata uskup.

Maka Mgr Kherubim berharap umatnya tidak jatuh ke dalam ketidakpedulian yang memalukan atau rutinitas yang monoton, yang mencegah kita untuk menemukan apa yang baru! “Mari kita menangkal sinisme yang merusak. Mari kita membuka mata dan melihat penderitaan dunia, luka-luka saudara-saudari kita yang diingkari martabat mereka,” kata Mgr Kherubim mengutip bulla pemakluman tahun suci luar biasa itu, Misericordiae Vultus (MV) No 15.

Kerahiman kepada sesama, lanjut uskup, harus kita nyatakan melalui sikap dan perbuatan yang nyata, “entah dengan saling memaafkan bila ada kesalahan, entah dengan saling menolong atau membantu dalam kesulitan atau terlibat aktif dalam gerakan solidaritas Aksi Puasa Pembangunan Nasional 2016 sebagai ungkapan tobat dan solidaritas.”

Sikap belas kasih dan hormat serta kewajiban untuk memelihara bumi, menurut Uskup Maumere, sangatlah mendesak karena kerusakan-kerusakan yang dibuat oleh manusia terhadapnya. “Saya mendorong agar umat, paroki-paroki, komunitas-komunitas religius, lembaga-lembaga pendidikan Katolik di keuskupan ini terlibat aktif dalam kerja-kerja konkret untuk memelihara dan merawat bumi atau lingkungan sekitar.”

Uskup lalu memberi contoh agar umat tidak membakar hutan, tidak menebang pohon tetapi menanamnya sebanyak mungkin, membuat sumur resapan, membuat jebakan air, dan tidak membuang sampah sembarangan. (Yuven Fernandez)

 

 

Tinggalkan Pesan