KWI-27Feb2015R-351x185

PEKAN PRAPASKAH I (U)
Santo Marselus; Santo Konradus dari Piacenza

Bacaan I: Yeh. 18:21-28

Mazmur: 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8; R: 3

Bacaan Injil: Mat. 5:20-26

Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, se­sung­guhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Renungan

Tuhan tidak pernah pilih kasih bagi orang yang bertobat. Siapa pun dapat diterima dan diampuni dosanya. Sebab, Allah kita sangat mengasihi kita sehingga kita tidak dihakimi setimpal dengan kesalahan kita. Ia berkenan akan pertobatan kita selama kita hidup di dunia ini.

Tuhan Yesus menjelaskan lebih dalam lagi mengenai pemahaman kita tentang dosa. Dosa bukan saja berarti melanggar hukum-hukum Tuhan yang tertulis dalam Sepuluh Perintah-Nya, bukan pula perbuatan salah yang nyata berdampak buruk pada orang lain. Tetapi, lebih dalam dari itu semua, bahwa berniat atau berkehendak jahat saja sudah merupakan dosa. Kemarahan sudah menjadi dosa, atau mengarah kepada dosa. Berkata kasar adalah dosa.

Hidup beriman dan hidup harian sama pentingnya. Bahkan kita perlu memperbaiki hubungan kita dengan sesama terlebih dahulu sebelum beracara dengan Tuhan. ”Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Hubungan dengan Tuhan harus disertai dengan hubungan baik dengan sesama, yang dibangun dari niat dan kehendak yang baik.

Ya Allah, sering kali aku mengejar kesucian rohani tanpa memperhatikan kebaikan dalam hidup bersama. Aku ingin membangun niat memperbaiki hidup bersama sesamaku seiring dengan hidup berimanku kepada-Mu, dari hati yang dalam. Amin.

Tinggalkan Pesan