Mgr-Julianus-Kemo-Sunarka-SJ_02-640x306

“Masa Prapaska adalah masa sedemikian istimewa yang dianugerahkan Kristus pada Gereja, Sang Mempelai-Nya. Keistimewaan itu semakin terasa di tahun 2016 karena Gereja Katolik dalam masing-masing tingkatnya memberikan kepada kita bahan-bahan pendalaman rohani untuk kita olah. “Yubileum Belas Kasih Allah” di tingkat Gereja Universal, “Keluarga Katolik: Sukacita Injil” di tingkat Gereja Indonesia, dan “Tahun Syukur” di tingkat Gereja Partikular atau Gereja Keuskupan Purwokerto.

Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ menulis hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2016  dengan judul “Bersyukur atas Iman, Paguyuban, dan Pendidikan di Keuskupan Purwokerto.”

Menurut uskup,  semua yang dilakukan dalam Masa Prapaskah atau ‘retret agung’ dengan sejenak ‘meninggalkan’ kesibukan, rutinitas harian dan mengisinya dengan devosi, termasuk Jalan Salib dan Pendalaman Iman APP, “dilakukan sebagai sarana pertobatan untuk mendapatkan belas kasih dan pengampunan dari Tuhan atas segala dosa kita. Inilah yang mau ditawarkan Bapa Suci Paus Fransiskus kepada umat Katolik seluruh dunia melalui Bulla Missericordiae Vultus (Wajah Belas Kasih).”

Tahun Yubileum Belas Kasih dimulai dengan pembukaan ‘pintu suci’ Basilika Santo Petrus, 8 Desember 2015, simbol persatuan antara manusia dengan Allah, tanda keselamatan itu sendiri. “Sebagai bagian dari Gereja universal, umat Katolik Keuskupan Purwokerto juga mesti ambil bagian dalam perayaan Yubileum Belas Kasih, baik secara pribadi maupun bersama. Ini sejalan dengan yang diharapkan Bapa Suci,” kata Mgr Sunarka.

Bulla Missericordiae Vultus, artikel 4, menulis, “Setiap Gereja Partikular, oleh karena itu, akan terlibat langsung dalam menghayati dengan lebih lama Tahun Suci ini sebagai saat yang luar biasa, rahmat dan pembaruan rohani. Dengan demikian Yubileum akan dirayakan baik di Roma maupun di Gereja-Gereja Partikular sebagai sebuah tanda kasat mata dari persekutuan universal Gereja.”

Satu bentuk kegiatan yang dapat dibuat secara konkret bagi umat dalam menghayati belas kasih Tuhan di tahun Yubileum Belas Kasih Allah itu, tulis bulla itu, adalah Merayakan Sakramen Rekonsiliasi.

“Menghayati belas kasih Allah di Tahun Yubileum Belas Kasih berarti menghayati keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah secara nyata melalui pengampunan dalam Sakramen Rekonsiliasi dan rahmat indulgensi yang diberikan oleh Bapa Suci sendiri. Anugerah cuma-cuma ini hendaknya tidak hanya dinikmati secara pribadi sebagai orang beriman Katolik, tetapi juga dalam kebersamaan dengan orang lain, terutama keluarga. Dengan demikian, sukacita yang dirasakan karena menerima belas kasih Tuhan, bukan hanya menjadi sukacita pribadi, tetapi sukacita keluarga,” tulis uskup seraya mengaitkan Tahun Belas Kasih dan Tahun Keluarga.

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI), Bogor, 2-6 November 2015, bertema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil, Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia Yang Majemuk.”

Sukacita Injil dalam keluarga-keluarga Katolik digambarkan oleh SAGKI dengan menulis, “Bercermin dari hidup Keluarga Kudus Nazaret, keluarga Katolik dihayati sebagai ladang sukacita Injil yang paling subur, tempat Allah menabur, menyemai, dan mengembangkan benih-benih sukacita Injil. Di dalam keluarga, suami-istri dan anak-anak saling mengasihi, membutuhkan, dan melengkapi. Kesabaran, pengertian, dan kebersamaan saat makan, doa, dan pergi ke gereja adalah wujud nyata kasih sayang tersebut. Kasih yang dibagikan tidak pernah habis, tetapi justru meningkatkan sukacita dalam keluarga.”

Yang disampaikan dalam satu butir Hasil SAGKI itu, menurut Mgr Sunarka, adalah sarana berefleksi dan berevaluasi bagi keluarga-keluarga Katolik di Keuskupan Purwokerto. “Apakah keluargaku sudah demikian adanya atau masih dalam perjuangan jatuh bangun ke arah sana? Apabila sudah demikian adanya, marilah kita syukuri sebagai karya Tuhan dan apabila belum atau masih dalam perjuangan, mari kita lihat hal itu sebagai sebuah proses pembelajaran. Itulah artinya ‘syukur’.”

Bagi Keuskupan Purwokerto, 2016 adalah ‘Tahun Syukur,’ seperti terumuskan dalam tema APP 2016, “Keuskupan Purwokerto Bersyukur atas Iman, Paguyuban, dan Pendidikan di Keuskupan Purwokerto”.

Tema itu, tegas Mgr Sunarka, “mengingatkan kita akan tahun-tahun yang sudah kita jalani dengan masing-masing fokus pastoral yang berbeda, yaitu Pembinaan Iman (2013), Paguyuban Pemberdayaan (2014), dan Kerasulan Pendidikan Katolik (2015). Hal ini merupakan pelaksanaan amanat Musyawarah Pastoral (MusPas) Keuskupan Purwokerto Tahun 2012.”

Dengan Tahun Syukur itu, jelas uskup, seluruh umat diajak untuk sejenak ‘menengok kembali’, melihat dengan cara pandang positif proses pelaksanaan dan hasil capaian masing-masing fokus pastoral setiap tahun. Dari situlah,  akan dihasilkan masukan-masukan berarti, ide-ide inovatif, dan pemikiran-pemikiran yang relevan untuk pelaksanaan karya-karya pastoral Keuskupan Purwokerto ke depannya.

“Di Tahun Syukur ini juga, tepatlah apabila mau mengadakan program kegiatan yang mensinergikan atau menyatukan tiga fokus pastoral di atas. Cara dan bentuknya dapat beraneka ragam sesuai kekhasan dan pilihan kelompok atau paroki masing-masing,” tulis Mgr Sunarka.

Dengan demikian, Gereja Keuskupan Purwokerto berharap, “melalui Masa Prapaska tahun ini, masing-masing umat Katolik semakin terlibat dalam berbagai kegiatan olah rohani untuk mendapatkan ‘kekayaan batin’ dalam hidup beriman kita.” (pcp)

 

Tinggalkan Pesan