DSCN2596

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta Pastor Samuel Pangestu Pr mengajak seluruh wartawan Katolik agar dalam menjalankan tugas kewartawanan selalu mewartakan kebenaran dan menghindari pemberitaan yang menimbulkan kegaduhan. “Dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya, wartawan telah melakukan jurnalisme yang bermakna, karena berguna bagi seluruh umat manusia,” kata imam itu.

Pastor Samuel Pangestu Pr berbicara dalam homili Misa Buka Tahun Bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Cikini, Jakarta, 5 Februari 2016, yang diikuti lebih dari 60 wartawan cetak dan elektronik se-Indonesia.

Dalam Misa yang dipimpinnya, bersama konselebran Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI Pastor Guido Suprapto Pr, Pastor Samuel Pangestu mengatakan bahwa jurnalisme juga berarti pewartaan yang penuh kasih dan bertanggungjawab.

“Untuk menjadi pewarta yang baik, wartawan Katolik harus juga memahami Injil,” lanjut imam itu seraya menegaskan bahwa masa depan dan cita-cita bangsa juga ditentukan oleh peran wartawan Katolik dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Sehubungan dengan peringatan Santa Agatha hari itu, Pastor Samuel mengharapkan para wartawan meneladani cara hidup beriman orang kudus itu “yang mempertahankan imannya hanya kepada Tuhan Yesus.”

Selain itu, Pastor Samuel mengatakan bahwa sejak dulu Gereja Katolik KAJ diwarnai ‘darah dan air mata’. Dikatakan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) masih menghadapi kendala harus dihadapi. Di tengah kesulitan dalam mengatasi tantangan itulah, imam itu meminta wartawan Katolik untuk menciptakan kondisi penuh kasih.

Pastor Samuel juga berpesan kepada wartawan Katolik untuk tabah menghadapi atau mengalami kecemasan dan kekhawatiran. “Kebahagiaan yang dicapai umumnya melewati proses yang penuh penderitaan,” tegas Pastor Samuel.

Ketua PWKI, Eman Dapa Loka, menjelaskan bahwa Misa Pembukaan Tahun Bersama PWKI sudah dilakukan sejak sepuluh tahun lalu. Tema yang diangkat tahun ini  “Jika Jurnalisme Tak Bermakna, Buang Saja ke Laut.” Saat ini, jelasnya, ada kegelisahan segelintir wartawan, yang dalam menjalankan tugas, mungkin mengabaikan nilai-nilai kebenaran.

Dia berharap agar acara seusai Misa yang dilengkapi talkshow dengan beberapa tokoh bisa saling meneguhkan. “Tahun ini dilakukan agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Buktinya, panitia menghadirkan sejumlah nara sumber seperti Cirilus Harinowo (pengamat ekonomi, perbankan), Frans Welirang (pengusaha), drg Aloisius Giayi (Kadis Kesehatan Papua), dan dr Lie Agustinus Dharmawan (penggagas Rumah Sakit  Apung),” jelasnya.

Frans Welirang dan Cyrilus Harinowo mengatakan pertumbuhan geliat ekonomi ke depan akan terus bertumbuh. Keduanya merasa optimis karena didukung oleh komitmen Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang dalam pemerintahan mengusung sembilan agenda prioritas yang disebut Nawa Cita. Program itu digagas untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sementara itu Aloisius Giayi mengharapkan wartawan Katolik tidak mundur dalam menghadapi tantangan zaman. Sedangkan dalam sharingnya, Dharmawan mengatakan bahwa ia menggagas Rumah Sakit  Apung karena banyak warga yang tidak mampu secara ekonomi tidak bisa pergi ke dokter. “Saya membuatnya untuk melayani mereka yang tidak memiliki akses untuk menggunakan jasa dokter, khususnya di daerah terpencil.” (Konrad R Mangu)

DSCN2638

Tinggalkan Pesan