Mgr Antonius

Yesus meminta para nelayan untuk “’Bertolaklah ke tempat yang dalam” (Luk 5: 4). Di situ, menurut Uskup Bandung dalam Surat Gembala Prapaskah 2016, yang dibacakan dalam Misa di semua gereja dan kapel di keuskupannya, 6-7 Februari 2015, “Yesus mengajak mereka untuk keluar dari zona aman dan nyaman yang selama ini dirasa cukup untuk hidup seadanya.”

Namun, tegas Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, “Bertolak ke tempat yang dalam membutuhkan usaha lebih keras, nyali lebih berani, dan risiko lebih besar. Bertolak ke tempat yang dalam berarti membiarkan diri untuk mau dipimpin oleh Yesus. Bertolak ke tempat yang dalam berarti menerima tantangan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, bertolak ke tempat yang dalam berarti sikap pasrah dan percaya untuk diubah oleh Tuhan.”

Surat Gembala itu memang mengulas Injil hari itu, Luk 5: 1-11, tentang Yesus bertemu dengan para nelayan. Ajakan “bertolak ke tempat yang dalam” adalah undangan untuk makin mengandalkan Allah, menjadi bagian dari masa pertobatan pada tahun yang bertema “Hidup Pantang Menyerah,” kata Mgr Subianto.

Dijelaskan dalam surat gembala yang ditandatangani di Bandung pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari 2016, bahwa mau dan mampu hidup pantang menyerah kalau mengandalkan Allah dan percaya bahwa Allah akan memberi jalan keluar tepat pada waktunya dengan cara yang pas asalkan kita tetap berusaha.

“Ajakan bertolak ke tempat yang dalam sebagai undangan untuk lebih memperhatikan sesama menjadi bagian dari tobat kita entah dalam pekerjaan maupun pelayanan. Kedekatan dengan Allah memacu kepedulian pada sesama dan peningkatan hidup pribadi,” kata Mgr Subianto.

Namun saat ini cukup banyak orang bertemu pintu tertutup bagai jalan buntu seperti yang dialami Petrus dan teman-temannya. “Di tengah kesulitan ekonomi, ada orang yang menderita kekurangan hingga hidup sengsara. Di tengah tuntutan pekerjaan, ada orang yang merasa sarat dengan beban hingga hidup tertekan. Di tengah usaha hidup sehat, ada orang yang sakit berat hingga hidup sekarat. Di tengah godaan dunia yang menggiurkan, ada orang yang tak berdaya keluar dari belenggu kebiasaan buruk hingga hidup putus asa. Di tengah impian akan kebahagiaan berkeluarga, ada orang yang tidak setia pada janji perkawinannya hingga hidup gelisah.”

Di situlah, kata Mgr Subianto, orang membutuhkan kehadiran Yesus yang memanggilnya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam!”

Uskup berharap semoga laku tobat di masa Prapaskah 2016 membawa perubahan kualitas hidup. “Dengan mati raga dan puasa, kita menjadi orang yang makin mampu mengendalikan diri dan giat bekerja pantang menyerah. Melalui doa dan tapa, kita menjadi diri yang lebih pasrah dan mengandalkan Allah. Lewat amal kasih, kita menjadi pribadi yang makin peduli pada sesama. Perubahan kualitas hidup ini hanya terjadi kalau kita terbuka membiarkan Tuhan masuk ke dalam perahu hidup kita dan dengan penuh iman mengikuti undangan-Nya untuk bertolak ke tempat yang dalam,” tulis Mgr Subianto.

Dalam surat gembala itu, Uskup Bandung juga menyinggung tentang Tahun Belas Kasih sedunia dan Tahun Keluarga se-Keuskupan Bandung. “Dengan menetapkan tahun 2016 sebagai Tahun Belas Kasih Allah, Sri Paus Fransiskus mengajak kita ‘untuk dengan lebih sungguh menyerap belas kasihan Allah agar kita dapat menjadi tanda efektif dari karya Bapa dalam hidup kita”’ (Misericordiae Vultus, 3). Dengan kesadaran akan belas kasih Allah itu, kata uskup, pada Rabu Abu, 10 Februari 2016, masa Prapaskah dimulai sebagai saat rahmat dan kesempatan khusus untuk bertobat agar makin dekat dengan Allah.

“Pada saat itu kita disadarkan akan belas kasih Allah supaya membenahi diri dari kelemahan dan dosa, meningkatkan sikap peduli dan relasi dengan sesama, serta memperdalam kehidupan rohani dan kedekatan dengan Allah. Sikap tobat itu kita wujudkan melalui doa dan tapa, pantang dan puasa, serta amal dan kasih,” tulis uskup.

Menyinggung tentang Tahun Keluarga Keuskupan Bandung (2016-2018), uskup menegaskan, “secara khusus saya mendoakan saudara-saudari untuk setia menjaga kekudusan sakramen perkawinan dan keutuhan keluarga.” Kalau menemui kesulitan bagai jalan buntu, lanjut Mgr Subianto, “undanglah Tuhan yang penuh belas kasih untuk memasuki bahtera keluarga saudara sekalian dan bersama Tuhan bertolaklah ke tempat yang dalam.” (pcp)

 

Tinggalkan Pesan