Surat Gembala

Renungan mengenai tema masa Prapaskah 2016 bukan hanya bisa diperdalam dengan menggali butir-butir gagasan dari sabda Tuhan, tetapi bisa juga dengan mempelajari pengalaman pribadi Paus Fransiskus yang sejak diangkat menjadi Uskup mempunyai semboyan “miserando atque eligendo” (dengan penuh kerahiman Ia memilih aku), kata Uskup Agung Jakarta.

Pengalaman akan kerahiman Allah begitu mendalam dirasakan ketika Paus Fransiskus berusia tujuh belas tahun. “Atas dasar pengalaman itu ia memutuskan untuk hidup mengikuti teladan Santo Ignatius dari Loyola,” tulis Mgr Ignatius Suharyo dalam Surat Gembala Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk Masa Prapaskah 2016 yang bertema “Kerahiman Allah Memerdekakan.”

Pengalaman akan kerahiman Allah ini pula yang mendorong Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan di dalam Gereja Katolik, yang kadang-kadang mencengangkan.

Misalnya, jelas Mgr Suharyo, Paus menyatakan bahwa “Ekaristi, betapa pun dalam dirinya sendiri adalah kepenuhan hidup sakramental, bukanlah suatu hadiah bagi mereka yang sempurna, melainkan obat penuh daya dan santapan bagi yang lemah. Keyakinan ini memiliki konsekuensi pastoral yang perlu disadari dengan bijaksana dan berani” (EG 47).

Atas dasar pengalaman yang sama, lanjut Mgr Suharyo, Paus dengan lantang menolak sistem ekonomi yang menguasai dan meminggirkan, bukan yang melayani kebaikan bersama. “Atas dasar pengalaman yang sama pula Paus menyerukan pertobatan ekologis dalam rangka memelihara bumi ini sebagai rumah kita bersama. Dengan demikian jelaslah bahwa pengalaman akan kerahiman Allah yang memerdekakan, mempunyai jangkauan pengaruh yang amat luas.”

Dewan Karya Pastoral KAJ menawarkan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan” sebagai ajakan untuk pertama-tama memahami secara lebih dalam arti kerahiman Allah. Selanjutnya, menurut Mgr Suharyo, tentu diharapkan agar pemahaman lebih mendalam membantu semua umat untuk mengalami kerahiman Allah secara pribadi.

“Pengalaman seperti ini dapat kita rasakan dalam hidup kita sehari-hari khususnya pada waktu kita jatuh dan diangkat kembali oleh Allah yang kasih setia-Nya tanpa batas; pada waktu kita sadar akan dosa, kelemahan dan kesalahan kita dan menerima belas kasih pengampunan Tuhan maupun maaf dari sesama. Ini kita alami secara istimewa dalam Sakramen Rekonsiliasi,” kata Mgr Suharyo.

Surat gembala itu dibacakan di gereja paroki dan kapel-kapel dua hari dan sehari sebelum Tahun Baru Imlek 8 Februari 2016. Maka Mgr Suharyo mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Imlek. “Kita semua tahu, Tahun Baru Imlek pada mulanya berkaitan dengan syukur para petani atas datangnya musim semi, musim yang menjadi lambang munculnya kehidupan baru setelah musim dingin yang beku. Kalau pun tidak semua kita merayakannya, bolehlah kita semua ikut masuk ke dalam suasana sukacita dan syukur atas berseminya kehidupan baru dan harapan baru.”

Sementara itu, dua hari setelah Imlek, atau 10 Februari 2016, Gereja Katolik memasuki masa Prapaskah. “Kita semua tahu bahwa Prapaskah adalah masa penuh rahmat. Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk bersama-sama, secara khusus, mengolah pengalaman-pengalaman dan mengusahakan pembaharuan hidup agar dapat semakin mantab dan setia mengikuti Yesus Kristus masuk ke dalam sengsara dan wafat-Nya dan selanjutnya ikut bangkit bersama Dia,” tulis Mgr Suharyo.

Masa Prapaskah 2016, menurut Uskup Agung Jakarta, terasa istimewa karena dijalani dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Untuk kepentingan itu, Dewan Karya Pastoral sudah disediakan berbagai sarana pendalaman iman dengan tema ‘Kerahiman Allah Yang Memerdekakan’.

Mgr Suharyo berharap bahan-bahan yang disediakan, “dapat membantu seluruh umat untuk membuat masa Prapaskah semakin bermakna dan berbuah,” dan agar panduan gerakan rohani KAJ dalam rangka menyambut Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah “juga dapat sangat membantu membuat masa Prapaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat.”

Di akhir surat gembala itu, yang juga bisa didengar lewat rekaman Youtube https://www.youtube.com/watch?v=H_HdVBItL4c, Mgr Suharyo berharap umat beriman menjalani hidup dalam semangat saling mengampuni. “Semoga kita dijauhkan dari sikap menghakimi dan menghukum. Semoga kita semua, murid-murid Yesus di Keuskupan Agung Jakarta siap mencari jalan-jalan baru untuk mengalami, mensyukuri dan selanjutnya mewartakan serta mewujudkan kerahiman Allah ‘dengan keberanian rasuli, kerendahan hati Injili dan doa yang tekun’.” (pcp)

 

Tinggalkan Pesan