30-Jan-2016-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA III (H)
Santo Gerardus; Santa Maria Ward;
Santa Batildis; Santa Yasinta Mareskoti; Beato Sebastianus

Bacaan I: 2Sam. 12:1-7a.10-17

Mazmur: 51:12-13.14-15.16-17; R:12a

Bacaan Injil: Mrk. 4:35-41

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ”Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Renungan

Ketakutan terhadap ancaman bahaya membuat manusia panik. Mary Jane Fiesta Veloso, seorang perempuan yang sudah divonis hukuman mati karena dituduh sebagai salah satu pengedar narkoba, berdoa sepanjang hari memohon intervensi Allah dalam keputusan yang dirasanya tidak adil itu. Kegelisahan dan bayang-bayang kematian selalu menghantui. Beberapa jam menjelang eksekusi mati, kepadanya diberitahukan bahwa hukuman mati dibatalkan. Betapa gembira hatinya. Dia merasa hidup lagi dan memiliki harapan.

Apa yang dialami para Rasul, di dalam perahu yang diombang-ambing taufan sepanjang malam, menjadi pengalaman yang mencekam. Mereka bahkan sampai memarahi Yesus di atas perahu karena menganggap Yesus tidak peduli. ”Guru, Engkau tidak peduli, kita binasa?” Begitulah cara manusia berekspresi ketika berada dalam hati yang galau, cemas, dan terjepit.

Pengalaman para murid, dan ungkapan hati Mary Jane yang berkanjang dalam doa sepanjang hari, juga bisa menjadi cerita kita ketika sedang diterpa badai dan taufan kehidupan. Ketika hal itu terjadi, percayalah, Yesus hadir di sana dan tetap memberikan pertolongan pada waktu yang tepat. Di saat-saat seperti itu dibutuhkan mata hati yang terbuka untuk melihat kehadiran Tuhan dan telinga yang peka untuk mendengarkan suara-Nya, berkata: ”Diam dan tenanglah!” Semuanya akan menjadi tenang dan selamat.

Tuhan selalu tahu apa yang manusia butuhkan, hanya dibutuhkan iman dan kepercayaan kepada-Nya. Karena Tuhan menjadikan segalanya baik.

Allah yang Maha Pengasih, sering kali aku kurang percaya. Teguhkan imanku dan berilah aku hati yang damai dalam menghadapi berbgai goncangan dalam hidup. Amin.

Tinggalkan Pesan