parable-of-the-sower

PEKAN BIASA III (H)
Santa Angela Merici; Santo Robertus, Alberikus, dan Stefanus.

Bacaan I: 2Sam. 7:14-17

Mazmur: 89:4-5.27-28.29-30; R:29a

Bacaan Injil: Mrk. 4:1-20

Pada suatu hari Yesus mulai mengajar di tepi Danau Galilea.

Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: ”De­ngar­­lah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur se­bagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Dan kata-Nya: ”Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”.

”Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

Renungan

Allah setia pada janji-janji-Nya. Namun, manusia kerap tidak dapat menepati janji. Ketika manusia terbuka pada penyertaan Tuhan dan mengikuti petunjuk-Nya, ia akan beroleh selamat dan hidupnya bahagia. Namun, ketika ia menjauh dari Tuhan dan mulai mengandalkan dirinya sendiri, di sanalah awal kehancuran dan kepunahan.  Sejarah para nabi dan raja, termasuk Raja Daud, menjadi bukti tentang hal itu.

Dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan Allah kepada manusia, ada beberapa sifat khas manusia yang dapat muncul. Ada yang menolak. Ada yang ragu-ragu. Ada yang menerima, tetapi kurang pendirian, dan ada yang menerima, merenungkan, memelihara dan melak­sanakan kepercayaan sebaik-baiknya sehingga membuahkan hasil yang berlipat ganda dan membahagiakan.

Rahmat Tuhan selalu ditawarkan kepada setiap manusia. Tetapi, tanggapan manusia berbeda-beda. Meski demikian, Allah tidak bosan menawarkan rahmat ke­selamatan bagi manusia. Hanya manusia perlu membuka hatinya untuk menanggapi tawaran Allah dengan hati yang bijak dan tulus.

Ya Allah bukalah hatiku dengan rahmat-Mu agar aku selalu terbuka bagi tawaran keselamatan Putra-Mu Yesus Kristus, Juruselamat kami. Amin.

Tinggalkan Pesan