Paus berdoa dalam doa malam persatuan umat Kristen

Dalam doa malam ekumene di Basilika Kepausan Santo Paulus di Luar Tembok 25 Januari 2016, yang menandai berakhirnya Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani, Paus Fransiskus meminta maaf atas perilaku umat Katolik terhadap umat Kristen dari Gereja-Gereja lain.

Dalam Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman (Belas Kasihan) ini, kata Paus, “marilah mengingat bahwa tak seorang pun bisa mengupayakan persatuan sejati umat Kristiani tanpa sepenuhnya mempercayakan diri mereka kepada belas kasihan Bapa. Yang terpenting, marilah meminta pengampunan atas dosa perpecahan kita, yang merupakan luka terbuka di Tubuh Kristus.”

Sebagai Uskup Roma dan Pastor Gereja Katolik, lanjut Paus, “saya ingin meminta belas kasihan dan pengampunan atas perilaku umat Katolik terhadap umat Kristen dari Gereja-Gereja lain yang belum mencerminkan nilai-nilai Injil.”

Selain itu, kata Paus, “saya mengajak semua saudara-saudara Katolik untuk memaafkan umat Kristen lain yang mungkin telah menyakiti hati mereka baru-baru ini atau di masa lalu. Kita tidak bisa menghapus apa yang telah terjadi tetapi hendaknya kita tidak membiarkan berat kesalahan masa lalu terus mencemari hubungan kita. Kerahiman Allah akan memperbaharui hubungan kita.”

Perayaan yang dilaksanakan pada Pesta Pertobatan Santo Paulus, yang menandai penutupan pekan ekumene tahun ini (18-25 Januari) dengan tema “Panggilan Mewartakan Perbuatan-Perbuatan Tuhan yang Besar” (1 Petrus 2:9), dihadiri oleh wakil dari Patriarkat ekumenis Metropolitan Gennadios, wakil pribadi di Roma dari Uskup Agung Canterbury Yang Penuh Rahmat David Moxon, dan semua wakil dari berbagai Gereja dan komunitas kegerejaan di Roma.

“Bersama-sama,” tegas Paus Fransiskus, “kita lewati Pintu Suci Basilika ini, untuk mengingatkan kepada semua orang bahwa satu-satunya pintu yang mengarah kepada keselamatan adalah pintu dari Yesus Kristus Tuhan Kita, wajah Bapa yang penuh belas kasihan.”

Di hari itulah Vatikan mengumumkan kunjungan Paus ke Lund di Swedia tanggal 31 Oktober 2016, untuk memperingati ulang tahun ke-500 Reformasi Martin Luther.

Dalam homili, Paus mengenang sosok Santo Paulus, seraya menggarisbawahi bahwa pertobatan “bukanlah pertama-tama dan terutama perubahan moral melainkan pengalaman transformasional yang berasal dari rahmat Allah dan pada saat yang sama, panggilan untuk misi baru yakni mewartakan Yesus kepada semua orang, Dia yang sebelumnya ia aniaya dengan menganiaya murid-murid Kristus.”

“Pengalamannya” mirip dengan pengalaman umat yang menjadi tujuan Surat Pertama dari Rasul Petrus. Santo Petrus menyapa semua anggota umat yang kecil dan yang rentan, yang terkena ancaman penganiayaan, serta melimpahkan kepada mereka gelar-gelar mulia yang terkait dengan umat Allah yang kudus: “bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat milik Allah sendiri.”

Bagi umat Kristen perdana, serta bagi kita umat beriman yang dibaptis saat ini, adalah sumber kenyamanan dan kekaguman terus-menerus ketika tahu bahwa kita dipilih menjadi bagian dari rencana Allah untuk keselamatan, disahkan dalam Yesus Kristus dan dalam Gereja.”

“Tanpa memandang perbedaan yang masih ada di antara kita, marilah mengakui dengan sukacita bahwa di awal kehidupan Kristen selalu ada panggilan, yang dikirim oleh Allah sendiri. Langkah maju kita di jalan persekutuan, yang sangat jelas terlihat di kalangan umat Kristen, tidak hanya tergantung kepada kita yang saling mendekati tetapi yang terpenting pada sejauh mana kita bertobat kepada Tuhan, yang oleh kasih karunia-Nya sendiri memilih kita dan memanggil kita menjadi murid-murid-Nya.”

Menurut Paus, “saat kita bergerak menuju persekutuan penuh di antara kami, sudah ada banyak cara berbeda yang bisa kita kerjakan bersama untuk menyebarkan Injil. Dengan berjalan dan bekerja bersama, kita menyadari bahwa kita sudah bersatu dalam nama Tuhan.”

Persatuan, kata paus Fransiskus, “adalah karunia belas kasih dari Allah Bapa. Di sini di depan makam Santo Paulus, rasul dan martir, yang terletak di Basilika yang sangat bagus ini, kita merasakan bahwa  permohonan kita yang sederhana didukung oleh perantaraan banyak martir Kristen masa lalu dan saat ini. Dengan murah hati mereka menanggapi panggilan Tuhan, dengan kehidupan mereka, mereka memberikan kesaksian tentang karya-karya luar biasa yang Tuhan ciptakan bagi kita dan mereka sudah mengalami persekutuan penuh dalam kehadiran Allah Bapa. Ditopang oleh teladan mereka dan terhibur oleh perantaraan mereka, dengan rendah hati kita berdoa kepada Allah.”

Dalam perjalanan perayaan itu, dalam perantaraan-perantaraan itu, doa-doa dipanjatkan antara lain untuk “orang Kristen yang dianiaya” agar mereka dapat mengandalkan “solidaritas dari semua pria dan wanita, khususnya saudara-saudari mereka di dalam iman.” (pcp berdasarkan laporan Iacopo Scaramuzzi dari Vatican Insider, http://www.lastampa.it/vaticaninsider/eng)

Penutupan PDS3

Doa Penutupan PDS

Penutupan PDS1

 

Tinggalkan Pesan