Yesus-makan-bersama dari majalah Hidup

PEKAN BIASA II (H)
Santo Yohanes Penderma; Santa Martina;
Beato Hendrikus Suso OP; Beata Yosepha Maria

Bacaan I: 2Sam. 1:1-4.11-12.19.23-27

Mazmur: 80:2-3.5-7; R:4b

Bacaan Injil  Mrk. 3:20-21

Sekali peristiwa Yesus bersama murid-murid-Nya masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka, ”Ia tidak waras lagi.”

Renungan

Sebuah keluarga dianugerahi seorang putra. Ayah dan ibu sangat mengasihi putra mereka. Karena sedemikian mengasihinya, mereka selalu mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anaknya dari dekat. Sikap melindungi yang begitu kuat tidak memberikan kesempatan bagi anak tersebut untuk mengekspresikan diri apa adanya. Mereka tidak sepenuhnya mengerti kemauan baik putra mereka untuk bertumbuh menjadi anak yang mandiri. Sikap ayah dan ibu yang over protektif—yang terlalu berlebihan memberikan perhatian, bahkan menghalangi pertumbuhan anak mereka.

Yesus ke mana pun pergi selalu dikerumuni banyak orang. Orang ingin mendengarkan Yesus, ada juga yang ingin disembuhkan dari segala jenis penyakit yang diderita. Yesus bahkan tidak memiliki waktu untuk makan dan istrahat. Melihat hal ini, keluarga Yesus secara manusiawi juga ikut prihatin. Mereka bermaksud membatasi pelayanan dan pewartaan Yesus. Mereka cemas dan bahkan ada yang mengira Yesus tidak waras. Apa yang terjadi adalah perbedaan pemahaman terhadap pribadi Yesus dan pelayanan-Nya. Sebagian dari Keluarga Yesus berpikir, dengan membatasi dan mengambil Yesus dari kerumunan, dapat juga memberi kesempatan bagi Yesus untuk makan dan beristirahat. Ternyata Yesus memiliki pikiran dan cara pandang yang berbeda. Yesus melanjutkan pelayanan-Nya bagi banyak orang. Yesus tidak peduli dengan cara pandang yang sempit yang menghalang-halangi karyanya untuk mewartakan kabar baik tentang keselamatan dan menolong orang sakit.

Apakah kita juga sudah mendampingi anak-anak kita, atau orang-orang yang dipercayakan kepada kita, secara benar dan bijaksana dengan memberi mereka ruang gerak untuk bertumbuh menjadi dirinya sendiri ataukah kita mengungkung anak anak dalam cara berpikir dan cita-cita kita? Biarlah anak anak bertumbuh menjadi dirinya sendiri menurut bimbingan Roh Tuhan dan kehendak Allah.

Ya Tuhan, ampunilah dosaku yang sering memaksakan pendapatku kepada orang lain. Aku sering membelenggu mereka menurut pikiranku sendiri dan kurang memberikan ruang bagi mereka untuk bertumbuh menjadi dirinya sendiri. Amin.

 Gambar dari Mingguan Hidup

Tinggalkan Pesan