Pastor Ayuso1

“Untuk melawan ekstremisme kita harus berkomitmen untuk melakukan dialog yang tulus,” kata Sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Pastor Miguel Angel Ayuso Guixot dalam Forum Para Pemikir Arab Pertama di Pusat Studi Strategis dan Riset Emirat di Abu Dhabi hari Minggu 17 Januari 2015.

Dalam forum itu, imam itu mengingatkan anjuran-anjuran Paus Fransiskus kepada Masyarakat Internasional tentang cara membangun perdamaian yang bisa berfungsi untuk melawan ekstremisme.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 11 Januari 2016, ketika berbicara kepada Korps Diplomatik yang terakreditasi untuk Takhta Suci, Paus Fransiskus  berpendapat bahwa “Ekstremisme dan fundamentalisme menemukan tanah yang subur tidak hanya dalam eksploitasi agama untuk tujuan kekuasaan, tetapi juga dalam kekosongan cita-cita dan kehilangan identitas – termasuk identitas agama – yang secara dramatis menandai apa yang disebut Barat.”

Kekosongan itu, tegas Paus, menimbulkan ketakutan yang membuat seseorang melihat orang lain sebagai ancaman dan musuh, ketertutupan pikiran dan sikap keras mempertahankan pendapat. Namun, lanjut Paus, tantangan terbesar yang kita hadapi adalah mengatasi ketidakpedulian guna bekerja sama untuk perdamaian, sebuah kebajikan yang harus terus diperjuangkan dengan meningkatkan “budaya perjumpaan.”

Peningkatan “budaya perjumpaan,” sesuatu yang “terbuka dan berbuah” dengan yang lain, “menuntut kita untuk siap mendengarkan,” kata Pastor Ayuso mengutip Paus Fransiskus dalam Pesan Hari Komunikasi Sedunia. Sadar bahwa saat ini kita hidup di kalangan “umat manusia yang terluka,” Paus  percaya bahwa motivasi untuk dialog antaragama harus bersandar pada komitmen bersama untuk perdamaian dan keadilan, jadi menjadikannya prinsip-prinsip dasar untuk semua perubahan.”

Bahkan, tegas Paus dalam Evangelii Gaudium, no 250, dialog antaragama adalah syarat yang diperlukan bagi perdamaian di dunia, dan dengan demikian itu menjadi kewajiban bagi kita semua. Dialog menciptakan sekolah kemanusiaan dan menjadi instrumen persatuan, seraya membantu membangun masyarakat yang lebih baik yang didirikan di atas saling menghormati dan persahabatan. “

Namun, seperti dikatakan Paus Fransiskus dalam Pertemuan Ekumene dan Antaragama di Pusat Studi Internasional Fransiskan di Sarajevo, 6 Juni 2015, pantaslah diingat selalu bahwa dialog otentik dan efektif mengandaikan identitas yang solid: tanpa identitas yang mapan, dialog tidak ada gunanya bahkan berbahaya.” Maka, dialog haruslah “ramah dan tulus,” seperti dikatakan Paus dalam Pesan kepada Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, 28 November 2013.

Dalam forum itu, Pastor Ayuso berbicara tentang pandangan paus tentang peran penting yang harus dilaksanakan para pemimpin agama, tentang bagaimana dialog yang tulis itu serta pentingnya doa.

“Doa adalah harta benda kita, yang kita terima sesuai tradisi masing-masing, guna meminta karunia yang dirindukan umat manusia,” kata imam itu mengulang perkataan Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum Antaragama di Lapangan Santo Petrus, 28 Oktober 205. (paul c pati)

 

 

Tinggalkan Pesan