Kesetiaan-Hanna-702x336

HARI KE-6 OKTAF NATAL (P)

Santo Sabinus

Bacaan I: 1Yoh. 2:12-17

Mazmur: 96:7-8a.8b-9.10; R: 11a

Bacaan Injil: Luk. 2:36-40

Ketika kanak-kanak Yesus dipersembah­kan di Bait Allah, di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Renungan

Mesti diakui bahwa pesona duniawi kerap menyilaukan mata dan sering menggoda kita untuk mendapatkannya. Seberapa banyak orang yang setia dan mampu bertahan berhadapan dengan pesona tersebut? Bila orang tidak mampu menguasai diri, maka ia akan mudah tenggelam dalam cara hidup duniawi dimana ia berada.

Kesetiaan Hana, seorang nabi perempuan, dalam menantikan Tuhan layak mendapat pujian. Dalam seluruh hidupnya ia berdoa dan berpuasa sambil bertekun menantikan kedatangan Tuhan. Perjumpaan dengan Yesus meneguhkan harapan baginya dan seluruh Israel.

Kesetiaan dan ketekunan beriman menjadi persoalan mendasar. Kesetiaan seperti ini diuji dalam setiap kesempatan dan kemungkinan yang kita hadapi. Ada banyak hal yang memungkinkan kita untuk beralih dari kesetiaan dan memudarkan ketekunan beriman. Dunia dengan segala pesonanya menawarkan berbagai kemudahan dan kemungkinan untuk beralih meninggalkan iman dan pengharapan. Tantangan itu begitu kuat, apa yang dapat kita lakukan sebagai seorang beriman? Belajar dari Hana, hendaknya kita ”tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang dan malam berpuasa dan berdoa.” Inilah kunci untuk menjadi ”anak yang akan bertumbuh besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padanya.”Inilah rahasia hidup beriman kita—orang-orang yang diberkati Tuhan.

Ya Tuhan, Engkau tahu segala kerapuhanku. Berilah aku kekuatan dan kemampuan untuk mengalahkan nafsu duniawi agar aku semakin mampu mengasihi Engkau. Amin.

 

Tinggalkan Pesan