DSCN2292

Uskup Agung Jakarta mengajak seluruh umat Katolik untuk melaksanakan tiga Pesan Natal 2015 yakni menjadikan keluarga sebagai sekolah iman, sekolah kemanusiaan; mengembangkan hidup penuh damai dengan sesama umat manusia meskipun berbeda bahasa, suku maupun agama; bersama umat lainnya memelihara bumi sebagai tempat pijak agar tetap lestari.

Mgr Ignatius Suharyo berbicara dalam Konferensi Pers seputar Pesan Natal Bersama 2015 dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bertema “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah” di depan Wisma Keuskupan Agung Jakarta, 25 Desember 2015. Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr menemani uskup agung itu saat berbicara di depan puluhan wartawan media elektronik dan media cetak.

Setelah berterima kasih kepada seluruh pejabat pemerintah mulai dari Presiden RI, Panglima TNI, Mabes Polri dan semua pihak yang ikut menjaga keamanan perayaan Natal di berbagai tempat di Indonesia sehingga perayaan itu berlangsung aman, tertib dan damai, Mgr Suharyo menegaskan bahwa tiga pesan itu bisa dikembangkan seperti semangat ugahari atau kesederhanaan.

“Semangat kesederhanaan menjadi sangat penting dikembangkan mengingat  fenomena ini, yang kaya tetap menjadi kaya tanpa peduli yang lain, sementara yang miskin tetap dalam keadaan terpuruk,” kata Mgr Suharyo seraya berharap agar Hari Kesetiakawanan Sosial, 22 Desember, bisa menjadi penyemangat dalam kehidupan beriman sehingga terjadi saling peduli dan saling memperhatikan.

Pesan Natal 2015 itu, tegas Mgr Suharyo dalam acara yang dihadiri Dewan Paroki Katedral Jakarta, merupakan buah pemikiran bersama antara PGI dan KWI. Namun, yang khas bagi Katolik adalah merenungkan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, karena “Paus Fransiskus sebagai pemimpin Gereja Katolik Dunia mengalami Kerahiman Allah.”

Uskup itu percaya bahwa gerakan pembaharuan Paus Fransiskus dalam Gereja Katolik bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk dunia. Menurut Paus, jelas Mgr Suharyo, dua hal yang memiliki ‘daya rusak’ yang sangat luar biasa adalah menganggap uang segalanya atau pemujaan terhadap uang, dan korupsi yang menyebabkan kemiskinan yang sangat parah.

Para wartawan juga bertanya tentang pandangan Mgr Suharyo terhadap kelompok radikalisme seperti ISIS dan tentang toleransi antarumat beragama.

Di tahun 2005, jawab Mgr Suharyo, Paus Benediktus mengeluarkan surat ensiklik pertama berjudul “Deus Caritas Est” atau “Allah adalah Kasih”. Dalam ensiklik itu ditegaskan bahwa melakukan kekerasan mengatasnamakan suatu agama adalah konsep keliru tentang Allah. “Semua kekerasan berawal dari teologi yang mungkin keliru. Yang sesungguhnya, Allah adalah kasih. Memang ada faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan, seperti ekonomi dan politik.”

Soal toleransi antarumat beragama, Mgr Suharyo mengatakan Indonesia dikenal menjadi model toleransi yang baik untuk negara-negara lain. “November 2015, Presiden Italia mengunjungi Indonesia dan melihat langsung kehidupan toleransi saat mengunjungi Katedral dan Masjid Istiqlal Jakarta. Saat ini, di Italia ada begitu banyak pengungsi dari negara lain. Mereka khawatir. Warga di sana mungkin tidak terbiasa menerima perbedaan. Presiden Italia mau belajar toleransi dari Indonesia,” kata uskup agung. (Konradus R Mangu)

 

Tinggalkan Pesan