Tahun Hidup Bakti purwokerto (1)

Suster Charlie OP

“Ku mau cinta Yesus selamanya, Ku mau cinta Yesus selamanya, Meskipun badai silih berganti di dalam hidupku, Ku tetap cinta Yesus selamanya, Ya Aba Bapa, ini aku anakmu layakkanlah seluruh hidupku, Ya Aba Bapa, ini aku anakmu pakailah …” nyanyi kaum religius dalam sebuah Misa di Goa Maria Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah.

Misa bertema “Mensyukuri Keindahan Mengikuti Kristus” itu menutup Tahun Hidup Bakti Keuskupan Purwokerto. Perayaan Ekaristi, 21 November 2015, itu dihadiri sebelas kongregasi imam, bruder dan suster se-Keuskupan Purwokerto, serta 580 kaum muda dari 25 paroki.

Dengan wajah sumringah, bahagia nan ceria, wakil-wakil kaum religius berjalan ke depan altar sambil membunyikan kentongan, angklung, dan alat musik yang lain mengiringi lagu-lagu rohani dan lagu-lagu daerah. Beberapa lagu dinyanyikan antara lain ‘Ku Mau Cinta Yesus’, ‘Sajeke Nderek Gusti’, ‘Numpak Prahu’, dan ‘Manuk Dadali’.

Tapi, semua keindahan itu mendorong saya mengenang ungkapan Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarko SJ saat pertemuan Piko (Pimpinan Komunitas) dan Pikar (Pimpinan Karya) se-Keuskupan Purwokerto: “Sukacita yang senantiasa baru adalah sukacita yang dibagikan! Kita bisa hidup atas cara yang berbeda di dunia ini, maka jadilah saksi dengan cara hidup dan bertindak yang berbeda. Untuk itulah maka tahun 2015 dicanangkan oleh Paus Fransiskus sebagai Tahun Hidup Bakti.”

Saat itu, Mgr Sunarko juga menyampaikan keprihatinan tentang kerasulan para religius yang kurang menampakkan wajah Kristus yang penuh sukacita, gembira dan terbuka. “Jangan seperti orang yang pulang dari kuburan dengan wajah muram, hendaklah kaum religius menampakkan wajah Kristus yang penuh sukacita,” kata uskup seraya berharap agar di Tahun Hidup Bakti kaum religius membaharui diri dengan menampilkan wajah Kristus yang berbeda dari “awam”.

Dengan seruan itu, Uskup Purwokerto mengajak kita untuk refleksikan hidup, diri dan panggilan sebagai religius yang menghayati hidup bakti, seraya menampilkan wajah Allah yang merupakan perwujudan cinta Allah kepada sesama manusia, terutama dalam karya yang dipercayakan kepada kita,  agar semakin banyak orang terselamatkan, semakin banyak kaum muda tergerak hatinya untuk bergabung dalam kongregasi religius, melanjutkan karya kerasulan, menjadi penyambung lidah Allah dengan cara hidup dan bertindak yang berbeda.

Kegalauan Uskup Purwokerto itu ditangkap oleh Musyawarah Antar Tarekat Religius (MATRI), yang kemudian mengagendakan berbagai kegiatan Tahun Hidup Bakti 2015. Setelah pembukaan Tahun Hidup Bakti dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Agustinus Handoko MSC sebagai dewan penasehat pastoral MATRI di bulan Januari, di bulan Mei diadakan rekoleksi para kaum religius dan para imam se-Keuskupan Purwokerto.

Narasumber Pastor Paulus Suhendro Pr, yang berbicara tentang “Kemajuan Teknologi Komunikasi, Mendukung atau Melemahkan Panggilan?” mengajak kaum religius untuk berefleksi sejauh mana mereka telah menyikapi secara bijak dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sebagai sarana mengembangkan dan memperlancar tugas pelayanan demi pewartaan.

Di bulan Agustus, kaum religius menghadiri rekoleksi dengan narasumber Vincencius Cahyono Santoso dari Keuskupan Agung Semarang. Dalam rekoleksi bertema “Biarawan-Biarawati yang Siap Diutus Menjadi Kabar Sukacita dari Sudut Kaca Mata Awam” itu Vincen berharap agar kaum religius menjadi sumber air hidup yang terus mengairi dan memancar, “sehingga orang lain yang melihat kehadiran para religius memperoleh kegembiraan itu.”

Dan mataku memandang sejumlah kaum muda dalam Perayaan Ekaristi Penutupan Tahun Hidup Bakti 2015 ini. Mereka diajak oleh kotbah Pastor Handoko agar terpanggil dan siap melanjutkan warta kabar sukacita untuk meneruskan pekerjaan di ladang Tuhan. Mereka diajak bergabung dalam hidup bakti, memberi kesaksian hidup bakti dengan penuh gairah, menanggapi tantangan teknologi, siap memulihkan persaudaraan, dan memberi kesaksian bahwa hidup bakti itu indah bersama Tuhan. “Kita hadir untuk membawa kebenaran dengan cinta yang hidup di mana-mana, dan untuk menghadirkan Kerajaan Allah, misalnya dengan menjadi pelajar yang baik,” kata imam itu.

Kehadiran kaum religius mampu menyentuh kaum muda untuk membangun Gereja dengan penuh sukacita, dan kini di masa ini, hidup bakti itu masih relevan, masih punya harapan, tegas Pastor Handoko seraya mengingatkan kaum religius bahwa mereka dipanggil untuk membawa dan berbagi sukacita. “Apakah Anda masih menjadi khabar sukacita bagi orangtuamu?” tanya imam itu.

Mgr Sunarko tidak hadir dalam Misa Penutupan Tahun Hidup Bakti 2015. Dalam sambutannya, Vikjen Keuskupan Purwokerto Pastor Tarsisius Puryatno Pr mengakui bahwa, “kehadiran berbagai tarekat dan karyanya memperkuat keberadaan dan tumbuhkembangnya Gereja di wilayah Keuskupan Purwokerto.”

Imam itu lalu memperkenalkan tarekat baru, yaitu SFCR dari Roma yang mau berkarya di Paroki Kroya. “Aneka tarekat menciptakan bunga warna-warni memberi lautan di Keuskupan Purwokerto,” kata Vikjen seraya berharap agar para bruder dan suster mengembangkan sayapnya, membuka komunitas baru di paroki yang belum ada komunitasnya.

Perayaan Syukur Tahun Hidup Bakti 2015 berhasil mengajak kaum religius untuk berefleksi bahwa keberadaan kita tidak lepas dari dunia yang dipenuhi berbagai macam persoalan. Meskipun demikian, kita diajak untuk terus mensyukuri karena Allah terus mencintai keberadaan kita yang bercacat. Allah terbuka terhadap ketidakberdayaan kita, supaya kita semakin sadar betapa indahnya hidup mengikuti Kristus.

Maka tidaklah berlebihan apabila di saat penuh makna ini, kita berhenti sejenak mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah membimbing perjalanan panjang kita. Pantaslah kita berharap  dan menaruh kepercayaan bahwa hidup bakti akan terus berkembang, karena hidup bakti  adalah hidup yang dipersembahkan untuk Gereja dan dunia.

Dalam perayaan syukur itu kita telah mempererat tali persaudaraan di antara lembaga hidup bakti, pewaris sejarah yang kaya akan kharisma para Pendiri. Dalam suasana itu kita juga bersyukur atas beragam karunia yang dianugerahkan kepada Gereja untuk pekerjaan yang baik, atas kemampuan untuk terus merangkul masa depan dengan berbagai kesulitan yang dialami, misalnya semakin banyak anggota yang semakin tua dan merosotnya benih panggilan.

Tahun Hidup Bakti 2015 telah menantang kita untuk refleksikan kesetiaan kita kepada Allah dengan tetap bergabung kepada lembaga hidup bakti yang dipilih dan tetap melaksanakan tugas perutusan yang dipercayakan dalam hidup keseharian di tengah masyarakat.

Perayaan syukur ini telah mengajak kaum religius untuk bersaksi “di mana ada kaum religius, di situ ada sukacita.” Kita dipanggil untuk memahami dan menunjukkan wajah Allah yang sehingga meluap dengan kebahagiaan di dalam hidup berkomunitas, pelayanan bagi Gereja dan perjumpaan dengan sesama.***

Tahun Hidup Bakti purwokerto

Tahun Hidup Bakti purwokerto (2)

Tinggalkan Pesan