Mother_Teresa_02

“Pada hari ulang tahunnya, 17 Desember 2015, Paus Fransiskus memberikan hadiah ulang tahun sempurna buat hari ulang tahunnya sendiri. Dia menerima penyembuhan misterius dari seorang pria Brasil dari abses otak sebagai mukjizat kedua yang dianggap berasal dari perantaraan Ibu Teresa. Hal ini membuka jalan kanonisasi Ibu Teresa di tahun 2016. Selama bertahun-tahun selama hidupnya, Ibu Teresa menjadi wajah belas kasihan Allah. Tentu ini merupakan berita yang bagus!” tulis email harian Tahun Kerahiman kepada PEN@ Katolik.

Untuk membaca artikel tentang pengembangan ini, PEN@ Katolik lalu menerjemahkan sebuah artikel yang dirujuknya dari National Catholic Register.

KOTA VATIKAN – Sebuah mujizat yang memperbolehkan kanonisasi Beata Ibu Teresa dari Kalkuta telah resmi disetujui oleh Vatikan setelah dinanti berbulan-bulan lamanya.

Belum diberikan tanggal pasti tertentu untuk peristiwa tersebut.

Rumor kanonisasi itu telah berkembang berbulan-bulan. Namun, Vatikan baru meresmikannya dalam sebuah komunike 18 Desember 2015, yang juga mengakui kebajikan heroik dari Pastor Giuseppe Ambrosoli dari Misionaris Hati Kudus Yesus Comboni. Dengan demikian dia memberikan gelar “Venerabilis” (yang patut dihormati).

Meskipun baru beberapa hari sebelumnya Paus Fransiskus bertemu dengan Kardinal Angelo Amato, prefek Kongregasi untuk Penggelaran Kudus, untuk meneruskan beberapa proses kanonisasi, namun Paus bertemu lagi dengan kardinal itu dalam audiensi pribadi di hari ulang tahunnya, 17 Desember 2015.

Dalam perjalanan pertemuan itu, Paus menerima mujizat lewat perantaraan Ibu Teresa yang telah dipelajari, yakni, penyembuhan seorang pria Brasil yang sembuh secara misterius dari abses otak, atau proses infeksi dengan pernanahan yang terlokalisir di antara jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai macam variasi bakteri, fungi dan protozoa.

Meskipun belum ada rencana resmi, sebelumnya Kardinal Amato telah menyarankan tanggal 4 September 2016, yang sedang dicermati sebagai hari yubileum bagi para pekerja dan dan relawan kerahiman itu,  sebagai tanggal yang mungkin menjadi saat kanonisasi itu, karena tanggal itu berdekatan dengan 5 September, hari raya dan peringatan kematian biarawati itu.

Di bulan September, Pastor Caetano Rizzi, yang bekerja pada kongregasi untuk para orang kudus di Vatikan, mengatakan kepada CNA bahwa Paus tertarik mengkanonisasi Ibu Teresa dalam Tahun Yubileum Kerahiman, yang berlangsung dari, 8 Desember 2015 hingga 20 November 2016.

Dalam pertemuan 17 Desember dengan Kardinal Amato itu, Paus Fransiskus juga menyetujui kebajikan heroik dari Pastor Adolfo dari Institut Bruder-Bruder Sekolah Kristen, serta dari Pastor Enrico Hahn.

Ibu Teresa lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu tanggal 26 Agustus 1910, di Skopje, Macedonia. Bungsu dari tiga anak itu, mengikuti kelompok kaum muda bernama “Sodality” yang dijalankan oleh seorang imam Yesuit. Itulah yang akhirnya membuka dirinya terhadap panggilan melayani sebagai seorang biarawati misionaris.

Dia bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster dari Loretto di usia 17 tahun dan dikirim ke Kalkuta. Di sana dia mengajar di sebuah sekolah tinggi. Setelah tertular TBC, dia dikirim untuk beristirahat di Darjeeling, dan itulah jalan yang membuat dia merasakan apa yang disebutnya “perintah” dari Tuhan untuk meninggalkan biara dan hidup di antara orang miskin.

Vatikan memberikan izin kepadanya untuk meninggalkan Suster-Suster Loretto dan menjalani panggilan barunya di bawah bimbingan Uskup Agung Kalkuta.

Setelah meninggalkan biaranya, Ibu Teresa mulai bekerja di daerah-daerah kumuh, sembari mengajar anak-anak miskin, dan mengobati orang sakit di rumah-rumah mereka. Setahun kemudian, beberapa mantan pelajar bergabung dengannya, dan bersama-sama mereka mengambil para pria, wanita dan anak-anak yang sedang sekarat di selokan-selokan sepanjang jalan.

Tahun 1950, Misionaris Cinta Kasih lahir sebagai sebuah kongregasi dari Keuskupan Kalkuta. Tahun 1952, pemerintah memberikan sebuah rumah kepada mereka. Dari rumah itu mereka melanjutkan misi pelayanan terhadap orang-orang miskin dan terlupakan dari Kalkuta.

Kongregasi itu cepat bertumbuh dari satu rumah untuk orang sekarat dan tidak diinginkan menjadi hampir 500 rumah di seluruh dunia.

Ibu Teresa mendirikan rumah untuk para pelacur, perempuan korban pemukulan, panti asuhan untuk anak-anak miskin dan panti penderita AIDS.

Ibu Teresa galak membela anak-anak yang belum lahir, dan dia dikenal pernah mengatakan, “Kalau kalian mendengar ada perempuan tidak mau menjaga anaknya dan ingin menggugurkannya, bujuklah dia supaya memberikannya kepadaku. Aku akan mencintai anak itu, seraya memandang tanda kasih Allah dalam dirinya.”

Ibu Tersa meninggal tanggal 5 September 1997. Hanya enam tahun kemudian dia dibeatifikasi oleh Santo Yohans Paulus II, tanggal 19 Oktober 2003.(paul c pati berdasarkan Year of Mercy dan National Catholic Register)

 

Tinggalkan Pesan