Paus di Uganda2

Dengan sorak sorai dan antusiasme, warga Kengami, satu dari enam perkampungan kumuh di Nairobi, Uganda, menyambut Paus Fransiskus yang berkunjung ke perkampungan mereka 27 November 2015. Saat itu, Bapa Suci mengeluarkan pernyataan tegas dengan mengatakan, “utang sosial dan lingkungan terhadap orang miskin kota dapat dibayar dengan menghormati hak suci mereka berupa ‘tiga L': tanah (Land), tempat tinggal (Lodging) dan pekerjaan atau usaha (Labor).” Hal itu, tegas Paus, “bukanlah perbuatan amal kasih “tetapi hutang budi.”

Ada sekitar 2,5 juta penghuni kawasan kumuh di Nairobi, atau sekitar 60 persen penduduk kota itu, namun mereka hanya menempati 6 persen dari tanah kota itu. Kenyataannya, Nairobi memiliki kawasan kumuh terbesar dan terpadat di dunia, namanya Kibera. Namun, hari itu Paus Fransiskus mengunjungi Kangemi, kawasan itu agak kurang berbahaya dibandingkan beberapa daerah kumuh lain di kota itu.

Paus Fransiskus memulai perjalanannya ke Uganda di petang hari itu. Selain perkampungan kumuh, pada hari itu Paus mengunjungi sebuah panti untuk sakit, orang cacat dan tuna wisma yang dijalankan oleh suster-suster dari Ordo Orang-Orang Samaria Yang Baik Hati. Sebelum menyalami para penghuni serta staf di pusat itu, Paus mengunjungi makam Kardinal Uganda yang pertama Emmanuel Nsubuga yang mendirikan panti itu tahun 1978 dan dimakamkan di pekarangannya.

Ketika bertemu kaum muda Uganda di Landasan Terbang Kololo di Kampala, 28 November 2015, Paus Fransiskus mendengarkan kesaksian tentang pengalaman buruk yang dialami seorang pria dan seorang wanita muda. Kepada kaum muda saat itu Paus mengatakan bahwa “senjata” terbaik yang pernah miliki adalah doa. “Dapatlah situasi negatif berbalik dan berubah menjadi sesuatu yang baik?” Paus Fransiskus menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan “ya, selama kalian datang kepada Yesus dan Bunda-Nya.”

Tarian dan tambur menyambut Paus di Namugongo, Tempat Ziarah Para Martir Uganda. Di sana Paus mengatakan kepada para katekis dan guru bahwa mereka terlibat dalam “pekerjaan yang kudus,” yang penting untuk membawa Kabar Gembira ke setiap desa di negara itu. Menurut koordinator nasional para katekis di Uganda, hampir 15.000 katekis bekerja di Uganda di bawah koordinasi sebuah komite dalam Konferensi Waligereja Uganda.

“Saya terutama ingin berterima kasih atas pengorbanan yang kalian dan keluarga kalian lakukan, dan atas semangat dan pengabdian dalam melaksanakan tugas penting kalian,” kata Paus kepada mereka dalam bahasa Italia. … “Kalian mengajarkan apa yang diajarkan Yesus, kalian mengajar orang dewasa dan membantu orang tua membesarkan anak-anak mereka di dalam iman, dan kalian membawa sukacita dan harapan hidup yang kekal kepada semua,” kata Paus yang juga berterima kasih karena mereka sudah mengajarkan anak-anak dan orang muda untuk berdoa.

Agenda terakhir Paus Fransiskus di Uganda tanggal 28 November adalah pertemuan dengan para imam, kaum religius dan ara frater calon imam di Katedral Santa Maria Kampala, 28 November 2015. Dengan mengenyampingkan teks yang sudah disiapkan, Paus yang berbicara dalam bahasa Spanyol meminta mereka untuk “tetap menghidupkan kesaksian para martir Uganda, tetap setia dengan mengikuti jalan kesetiaan para martir dan menjadi misionaris yang baik, dan bahwa kesetiaan hanya mungkin melalui doa, serta berupaya memperkuat iman Kristiani di negara mereka.”

Namun Paus juga telah berbicara kepada para pemimpin Uganda seusai penyambutan meriah di Bandara Entebbe. Saat pertemuan itu Paus Fransiskus mendorong mereka untuk saling melindungi dan membantu sebagai anggota dari satu keluarga manusia, tanpa memandang keyakinan dan kepercayaan yang berbeda.

Paus juga memberi sambutan kepada anggota-anggota pemerintahan dan korps diplomatik di Gedung Negara. Berbicara dalam bahasa Inggris, Paus mengatakan bahwa kunjungannya ke Uganda adalah terutama untuk memperingati ulang tahun ke-50 dari kanonisasi para martir Uganda, namun Paus menambahkan bahwa ia berharap “kehadiran saya di sini juga akan dilihat sebagai tanda persahabatan, penghargaan dan dorongan bagi semua orang dari bangsa besar ini.”

Sebesar 40 persen penduduk Uganda beragama Katolik dan 40 persen lainnya beragama Protestan (sebagian besar Anglikan). Dari sisa lainnya, 12 persen beragama Islam.

Paus Fransiskus juga menemui Presiden Sudan Selatan Salva Kiir di Gedung Negara selama 15 menit secara pribadi. Direktur Kantor Pers Tahta Suci Pastor Federico Lombardi mengatakan, itu pertemuan pribadi. “Tujuan serta niat Paus untuk itu jelas demi perdamaian dan rekonsiliasi di negeri itu,” kata imam itu. Tahun 2011, Sudan Selatan mendeklarasikan kemerdekaannya dari Sudan, namun sejak akhir 2013 negara itu dilanda perang saudara.

Bapa Suci tiba di Uganda tanggal 27 November sekitar pukul 05:00 sore waktu setempat, setelah meninggalkan Kenya, bagian pertama dalam kunjungannya ke tiga negara Afrika. Pada hari Minggu, 28 November 2015, Paus terbang ke Republik Afrika Tengah, sebelum kembali ke Roma di hari Senin. (pcp berdasarkan berita-berita dari Radio Vatikan dan Zenit.org)

Paus berdoa di tempat ziarah para martir Uganda

Paus di Uganda1

Kaum muda dari seluruh negara Uganda datang untuk menemui Paus

Paus dengan para klerus dan religius Uganda

Paus disambut di Uganda

Paus Fransiskus melambaikan tangan kepada masyarakat Kenya, foto EPA

Paus tiba di Uganda

 

 

Tinggalkan Pesan