26-Nov-KWI-R-702x336

PEKAN  BIASA XXXIV (H)

Santo Yohanes Berchmans; Santo Silvester Gozzollini;

Santo Leonardus Porto Morizio; Sarbel Maklouf

Bacaan I: Dan. 6:12-28

Mazmur: Dan. 3:68.69.70.71.72.73.74

Bacaan Injil: Luk. 21:20-28

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya  ”Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota,  sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis.  Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini,  dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu. Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.  Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Renungan

Nubuat Yesus tentang keruntuhan Bait Allah begitu dahsyat dan mencengangkan. Hampir sama sekali sulit dipercaya oleh orang-orang pada zamannya. Apa yang diramal Yesus itu benar adanya. Bangunan yang begitu kokoh, molek, dan dimiliki oleh sebuah bangsa yang dilindungi oleh Yahweh, akhirnya hancur luluh hingga saat ini. Bahkan, Yesus melanjutkan nubuat-Nya tentang kedatangan-Nya yang kedua dalam tanda-tanda alam semesta yang menakutkan. Kalau disimak baik-baik, dua nubuat ini sungguh merupakan ungkapan keseriusan dari pihak Allah. Manusia tidak bisa acuh tak acuh dan tidak peduli lagi pada perintah Allah. Ada sebuah perintah yang mendesak yang segera untuk dilakukan, yaitu bertobatlah.—”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Luk. 21:28).

Pertobatan terjadi bukan semata-mata karena takut bahwa celaka itu menimpa kita, namun karena kita tahu bahwa Yesus amat mengasihi kita. Ia takut kehilangan kita. Ia takut kita binasa. Inilah sesungguhnya motivasi dasar di balik pertobatan kita, bahwa Allah senantiasa merentangkan tangan-Nya untuk menyambut kita kembali, sekalipun kita sudah jatuh ke dalam lumpur dosa.

Ya Tuhanku, betapa aku ini sungguh berharga di mata-Mu. Tak sekejap pun Engkau rela kehilangan aku. Aku pun tidak ingin kehilangan Engkau, Tuhan. Dekaplah aku dalam pelukan kasih-Mu nan mesra. Amin.

 

Tinggalkan Pesan