20151115_131710 (1)

“Keadilan sosial terkait dengan keadilan ekologis, artinya kalau bumi ini rusak, kalau bumi luka, yang paling menjadi korban adalah orang miskin,” kata Pastor Telephorus Krispurwana Cahyadi SJ dalam sarasehan lingkungan hidup untuk mendalami ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ di Gereja Santa Teresia Bongsari, 15 November 2015.

Pastor Krispurwana mengamati, masyarakat zaman sekarang cenderung kurang mempunyai relasi yang baik dengan alam ciptaan, dan cenderung berelasi dengan alam melalui teknologi, misalnya, mendengarkan suara burung melalui HP. “Ingin merasakan alam yang indah ini, TV dinyalakan,” kata imam itu seraya menjelaskan bahwa kini orang berelasi dengan alam tidak secara langsung.

Kalau manusia merusak ciptaan alam ini, lanjut imam itu, alam ciptaan pun akan merusak manusia. “Kerusakan bumi terlihat pada penggundulan hutan dan pembakaran hutan, tipisnya ruang hijau, gaya hidup yang tidak tepat-konsumtif, budaya industrialisasi yang merusak alam dan penggunaan teknologi yang berdampak negatif,” jelas imam itu.

Kerusakan alam itu terjadi, menurut Pastor Krispurwana, karena cara berpikir masyarakat yang teknokratik, masyarakat terlalu mementingkan profit, antroposentrisme, manusia menjadi pusat dan penentu segala, adanya ketidakterkaitan ciptaan dan alam dimanipulasi.

Padahal, menurut imam itu, “semua yang ada di alam diciptakan dalam kesalingterkaitan satu sama lain. Jika satu makhluk terganggu maka, makluk yang lainnya akan terganggu. Maka dari itu untuk menyelamatkan alam ciptaan dibutuhkan pertobatan ekologis.”

Salah satu cara untuk menyelamatkan bumi, lanjut imam itu, adalah hidup sederhana. “Dengan hidup sederhana, maka seseorang mengonsumsi seperlunya saja, tidak mengambil sumber daya alam secara berlebih. Untuk menyelamatkan bumi seseorang diharapkan bisa berpikir lebih mendalam dan tidak spontan. Ini penting ketika seseorang akan berbelanja. Dia membeli yang dibutuhkan saja, tidak termakan oleh bujuk rayu iklan.”

Pembicara lainnya, Pastor Agustinus Sarwanto SJ menekankan pentingnya daya tahan kalau seseorang memang mau mengambil keputusan dan tindakan menyelamatkan alam ciptaan, mengingat banyak tantangan di tengah perjalanan. “Tidak frustasi di tengah jalan, karena kita akan menempatkan diri dalam proses-proses yang sangat panjang ini,” kata Pastor Sarwanto.

Maka, Pastor Sarwanto menganjurkan gerakan penyelamatan alam ciptaan dimulai dari yang kecil. “Dari kecil-kecil itulah kita akan menjadi lebih besar,” katanya dalam acara yang dihadiri para biarawati dari Kongregasi Penyelenggaraan Ilahi dan umat dari berbagai paroki itu.

Pastor Sarwanto juga mengatakan, dalam 55 tahun terakhir manusia menghabiskan sumber daya alam dan energi jauh lebih banyak dari seluruh perjalanan sejarah kehidupan manusia.

Menyikapi kerusakan alam itulah, imam itu bekerja sama dengan Pastor Paroki Romualdus Maryono SJ memilih gerakan ekopastoral di Paroki Bongsari.

Upaya itu dilakukan, jelas imam itu, untuk secara kreatif menjawab tantangan. “Ikut serta menciptakan budaya yang mampu menjawab berbagai tantangan, yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada di sekitar kita. Tidak kami sendiri, tetapi mencari dan bekerja sama menemukan inspirasi bersama yang lainnya,” kata imam itu.

Paroki itu kini berusaha menghijaukan lingkungan gereja, melakukan pengolahan sampah, membuat sumur resapan dan biopori, membuat pertanian hidroponik dan melakukan tebar benih ikan di sungai dekat gereja. “Semua itu dilakukan untuk memberi inspirasi pada umat akan upaya gerakan ekologi. Dengan alam yang lestari, kehidupan pun akan menjadi semakin baik,” jelas imam itu. (Lukas Awi Tristanto)

 

 

Tinggalkan Pesan