Lulu

Umat Allah Keuskupan Bandung “akan mengusahakan agar keluarga Katolik semakin menghayati kekudusan dan keutuhan keluarga. Untuk itu, kita akan melaksanakan pastoral keluarga yang terpadu, memberi perhatian kepada keluarga-keluarga kawin campur dan keluarga yang mengalami kesulitan. Kita berusaha mengembangkan keluarga sebagai Gereja rumah tangga, termasuk memastikan terlaksananya pendidikan iman dalam keluarga.”

Ketika dilakukan pemungutan suara untuk kebijakan pastoral di bidang pastoral keluarga itu, semua 184 peserta yang hadir dalam Sinode Keuskupan Bandung 2015 menyobek dan memasukkan kertas merah bertuliskan YA, tanda setuju, ke dalam kotak suara. Berarti semua peserta tetap menyimpan sobekan kertas berwarna kuning bertuliskan TIDAK, tanda tidak setuju, dan berwarna hijau bertuliskan ABSTAIN.

Dari 37 kebijakan pastoral yang diusulkan peserta sinode, 20-22 November 2015 di Lembang, untuk menentukan arah perjalanan Umat Allah Keuskupan Bandung untuk 25 tahun mendatang, hanya kebijakan itu yang disetujui secara bulat. Sinode itu sebenarnya diikuti 208 peserta wakil para imam, anggota lembaga hidup bakti, umat paroki, lembaga Katolik di Keuskupan Bandung dan undangan khusus, namun pemungutan suara pengambilan keputusan hanya diikuti 184 peserta.

Rangkuman singkat 37 kebijakan pastoral yang dihasilkan sinode dimasukkan dalam Pesan Sinode Keuskupan Bandung 2015 “Sehati Sejiwa Berbagi Sukacita” yang dibacakan dalam Misa Penutup Sinode di Katedral Bandung bersama umat, 22 November 2015. Sinode diawali dengan Pra Sinode Pertama, 29-31 Mei 2015, yang menghasilkan Lineamenta, dan Pra Sinode Kedua, 11-13 September 2015, yang menghasilkan Instrumentum Laboris, semuanya di Lembang.

Selain pastoral keluarga, sinode juga menghasilkan kebijakan pastoral, antara lain, Kaderisasi Kaum Muda, Dialog dengan Umat Beragama Lain, Komunitas Basis, Peran Gembala dan Anggota Lembaga Hidup Bakti, Pewartaan dan Katekese, Keterlibatan dalam Masyarakat, Pendidikan, Kesehatan dan Kematian, Dialog dengan Kemiskinan, Pelayan Liturgi Awam, Dialog Budaya Lokal dan Liturgi, Pertobatan Pastoral, Ruang Publik, Dialog dengan Budaya Modern, Kesadaran Baru Hidup Ekologis.

Dalam pesan yang dibacakan secara bergantian oleh peserta paling muda, Lulu Kristiana, berusia 18 tahun dari Paroki Santa Maria Fatima, Lembang, dan paling tua yang hadir Matius Suprawoto, 73 tahun, dari Paroki Santo Yusuf, Cirebon, dikatakan bahwa selama sinode peserta bukan hanya membicarakan tentang sukacita tetapi juga mengalaminya.

“Kita percaya bahwa para peserta sinode akan menjadi dokumen hidup yang akan terus mewartakan apa yang dialami selama sinode. Sinode ini juga merupakan pengalaman pertobatan pastoral untuk semakin menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih dalam reksa pastoral Umat Allah Keuskupan Bandung pada semua bidang kehidupan umat dan masyarakat,” tulis pesan yang diakhiri dengan doa kepada Bunda Maria agar menyertai dan mendoakan Umat Allah Keuskupan Bandung untuk semakin sehati sejiwa dan bersedia berbagi sukacita.

Menyinggung banyaknya kebijakan pastoral yang ditetapkan dalam sinode itu, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC berharap agar Gereja Keuskupan Bandung tidak terjebak pada banyaknya kegiatan, menjadi Gereja program dan proyek, dan tidak menjadi gereja kantor, tetapi tetap “menekankan pelayanan pastoral yang menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam, Dialah wajah kerahiman Allah, yang bersabda ‘Inilah perintahku, supaya kamu hidup saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu.’”

Karena kebijakan tentang pastoral keluarga disetujui oleh 100 persen peserta, maka Mgr Subianto mengumumkan bahwa “Keuskupan Bandung menetapkan tahun 2016 hingga 2018 sebagai Tahun Keluarga.” Dan para peserta sinode serta umat yang memenuhi katedral itu menanggapi pengumuman itu dengan tepuk tangan yang panjang.

Selain itu, uskup mengumumkan bahwa di tahun 2016 akan diadakan Sinode Kaum Muda Keuskupan Bandung. Terdengar lagi tepuk tangan yang panjang. Kebijakan pastoral tentang Kaderisasi Kaum Muda, “Kita, Umat Allah Keuskupan Bandung, ingin menjadi Gereja yang lebih menarik dan nyaman bagi kaum muda. Untuk itu, akan dilaksanakan kaderisasi kaum muda yang lebih berkesinambungan,” seperti yang dibacakan oleh Lulu Kristiana mendapat 182 kertas merah (YA) dan 2 kertas hijau (ABSTAIN). (paul c pati)

Matius

Menutup SinodeMisa Penutupan Sinode

Suasana Sinode

Keterangan foto:

1. Peserta paling muda, Lulu Kristiana, membacakan rangkungan hasil sidang

2. Peserta paling tua, Matius Suprawoto, membacakan pembukaan dan penutupan pesan sinode

3. Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC menutup sinode dengan mematikan lilin Sinode yang tetap bernyala selama proses sinode.

4. Misa Penutup Sinode Keuskupan Bandung

5. Suasana ruang sinode di sebuah hotel di Lembang

6. Credit Photo: pcp

Tinggalkan Pesan