Pemakaman Mgr Pujasumarta

Oleh Lukas Awi Tristanto*

“Menjadi berkat bagi siapa pun dan apa pun” adalah kalimat yang kerap disampaikan Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta dalam berbagai kesempatan. Kalimat ini pantas menjadi warisan bagi kita. Pernyataan ini menjadi sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang diwarnai kekerasan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup.

Uskup yang wafat tanggal 10 November 2015 pada usia ke-66 itu sangat concern pada pembangunan budaya kehidupan yang bermuara pada peradaban kasih. Budaya kehidupan diperkenalkan oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II yang mengritisi maraknya budaya kematian yang mewujud pada pembunuhan, kekerasan, perdagangan senjata, human trafficking, bahaya narkotika atau obat bius, bahkan kerusakan lingkungan hidup.

Terkait dengan persaudaraan dan dialog yang disampaikannya dalam beberapa kesempatan, Mgr Pijasumarta yang ketika meninggal masih menjabat Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) itu mengajak umat supaya menjadi orang yang penuh kasih, karena dengan demikian, “mereka menjadi anak-anak Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45). Hal ini rupanya sangat mewarnai cara Mgr Pujasumarta dalam membangun dialog lintas iman.

Terinspirasi dengan narasi Kain dan Habel, Mgr Pujasumarta juga mengajak umat supaya bersama-sama menjadi penjaga satu dengan yang lainnya. Dengan saling menjaga relasi maka persaudaraan akan makin erat terjalin, termasuk dalam menjaga alam ciptaan.

Dalam sebuah acara di Grobogan, Mgr Pujasumarta pernah mengatakan, pemanasan global tidak pandang agama, tidak pandang wilayah, tidak pandang bulu. Semuanya kalau terkena pemanasan global akan hancur. Dalam hal ini, Mgr Pujasumarta melihat celah bahwa persoalan lingkungan hidup juga bisa menjadi pintu masuk dialog antaragama.

Kesatuan iman dan tindakan

Mgr Pujasumarta sangat menekankan keseimbangan iman antara yang diungkapkan dalam  Ekaristi, ibadat, doa, maupun devosi dengan iman yang diwujudkan dalam tindakan praktis. Dalam hal ini, iman tidak hanya terjebak dalam tata ritual ibadah, namun berlanjut pada tindakan seperti kemanusiaan dan kepedulian pada yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Ada keseimbangan iman antara yang diungkapkan dengan yang diwujudkan seperti kepak dua sayap kupu-kupu, kiri dan kanan.

Maka, ketika bertugas sebagai Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani, Mgr Pujasumarta mengajak para frater untuk aktif dalam kegiatan bersama kaum miskin. Mgr Pujasumarta berharap agar doa-doa yang diungkapkan oleh para frater tidak kering, namun lebih bermakna karena bertolak dari kenyataan yang diwarnai kemiskinan.

Gereja papa miskin

Dalam beberapa waktu terakhir, Mgr Pujasumarta mensosialisasikan konsep Gereja Papa Miskin yakni Gereja milik Yesus Kristus Yang Papa Miskin (Ecclesia Christi pauperis) bersama dengan kaum papa miskin (cum pauperibus) sebagai Gereja Papa Miskin (Ecclesia pauperum) menghadirkan Kerajaan Allah dalam konteks konkret kehidupannya. Untuk membangun Gereja Papa Miskin, menurut Mgr Pujasumarta, dilakukan melalui tiga pintu yakni kesejahteraan, martabat dan iman.

Implikasinya, pengurus Gereja Papa Miskin mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa umatnya tercukupi dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok, tidak sekadar tercukupi, tetapi harus tercukupi secara bermartabat, bahkan harus tercukupi berdasarkan iman yang kokoh pada penyelenggaraan Tuhan.

Persaudaraan sejati

Selama menjadi imam Katolik hingga menjadi uskup, Mgr Pujasumarta sangat memperhatikan persaudaraan sejati lintas iman. Persaudaraan sejati menembus sekat-sekat perbedaan agama, budaya, adat istiadat bahkan ideologi. Bagi Mgr Pujasumarta, beragama di Indonesia adalah beragama bersama dengan orang-orang yang berlainan agama. Beragama di Indonesia tidak sendiri. Maka, dialog menjadi kunci untuk membangun persaudaraan sejati.

Menurut Uskup Agung Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo cara orang beradab, berperilaku dan berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda adalah dengan berdiskusi dan berdialog. Dialog antarumat beragama persis merupakan cara orang beradab yang saling berbeda keyakinan agamanya untuk berkomunikasi mencari cara hidup bersama.

Cara itu yang ditempuh oleh Mgr Pujasumarta. Banyak tokoh lintas iman mengakui keterbukaan Mgr Pujasumarta terhadap siapa pun dari berbagai latar belakang. Bahkan dalam hal kerjasama, secara tegas dan eksplisit, Mgr Pujasumarta menandaskan pentingnya menjalin relasi tidak hanya dengan orang yang berkehendak baik, namun juga dengan mereka yang tidak berkehendak baik. Harapannya agar mereka yang tak berkehendak baik, pada akhirnya pun akan berubah menjadi baik.

Maka, benarlah salah satu warisan yang layak dihidupi dari Mgr Pujasumarta yakni menjadi berkat bagi siapa pun dan apa pun.

Lukas Awi Trustanto

  • Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

Keterangan foto: Makam Mgr Pujasumarta di Pemakaman Imam-Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang di belakang Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, Jalan Kaliurang Sleman.  Foto diambil oleh Paul C Pati tanggal 20 November 2015

Tinggalkan Pesan