17-Nov-KWI-R-702x336

PEKAN  BIASA XXXIII 

Peringatan Wajib Santa Elizabeth dari Hungaria, Perawan (P)

Santo Dionisius Agung; Santo Gregorius Thaumaturgos; Santo Gregorius dari Tours

Bacaan I: 2Mak. 6:18-31

Mazmur:  3:2-7; R:6b

Bacaan Injil: Luk. 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.  Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”  Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Renungan

Eleazar dan Zakheus mempunyai kemiripan. Mereka adalah orang-orang yang terpandang, mempunyai kedudukan. Yang satu adalah seorang ahli taurat yang utama, yang lainnya adalah seorang kepala pemungut cukai di Yerikho.

Namun yang perlu kita renungkan bukanlah masalah kedudukan mereka, tetapi semangat hidup mereka. Eleazar walaupun dibela oleh teman-temannya supaya tidak mendapatkan hukuman dari raja, tetapi Ia tidak sudi berbohong. Eleazar lebih suka menderita karena kebenaran daripada hidup menjadi batu sandungan bagi orang lain. Zakheus, walaupun ia terpandang, mempunyai pangkat dan kedudukan, namun karena ia ingin sekali melihat Yesus, ia mendahului orang banyak dan memanjat pohon. Tak peduli ia ditertawakan oleh orang lain.

Keutamaan yang ditunjukkan oleh sosok-sosok tersebut membuahkan sukacita; ”Tetapi dalam jiwa aku menderita semuanya itu dengan suka hati karena takut akan Tuhan” (2Mak. 6:30).

Kita harus berani menentukan prioritas dalam kehidupan. Apakah kita lebih mementingkan ‘keselamatan’ di dunia ini saja atau kita berpikir panjang, yakni demi keselamatan di kehidupan yang kekal.

Tuhan, kedudukan dan martabat sungguh sangat membebaniku bahkan menghalangiku untuk bertemu dengan-Mu. Aku ingin tanggalkan semuanya di hadapan-Mu dan aku ingin bersandar pada pelukan-Mu yang mesra. Aku lelah, Tuhan. Amin.

 

Tinggalkan Pesan